Uni Emirat Arab dan Yordania Satukan Laut Mati – Laut Merah dengan Mega Proyek Senilai 2,3 Miliar USD

inNalar.com – Baru-baru ini, Uni Emirat Arab dan Yordania bekerja sama dalam pembangunan mega proyek jalur kereta yang hubungkan Laut Mati dan Malut Merah.

Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania telah menandatangani kesepakatan besar senilai 2,3 miliar USD untuk membangun jalur kereta tambang yang menghubungkan Laut Mati dengan Laut Merah.

Proyek ini merupakan bagian dari upaya kedua negara untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan meningkatkan efisiensi transportasi sumber daya alam.

Baca Juga: Diprotes Warga, Proyek Pengolahan Limbah Tinja di Bali Senilai Rp3,2 Miliar Dihentikan

Jalur ini akan digunakan terutama untuk mengangkut fosfat, salah satu komoditas ekspor utama Yordania, dari kawasan tambang di dekat Laut Mati ke Pelabuhan Aqaba di Laut Merah.

Proyek ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas logistik kawasan dan memperkuat infrastruktur transportasi.

Jalur sepanjang lebih dari 360 kilometer ini juga diharapkan dapat memangkas biaya operasional dan waktu pengiriman secara signifikan.

Baca Juga: Proyek VMARS: Upaya Indonesia Proyeksikan Simulasi Kehidupan di Planet Mars

Proyek ini akan mulai dibangun pada tahun 2026 mendatang. Diperkirakan akan rampung pada 2030 dan diprediksi mampu mengantarkan 13 juta ton fosfat per tahun.

Kolaborasi antara Yordania dan UEA mencerminkan hubungan bilateral yang semakin erat, terutama dalam investasi di sektor transportasi dan infrastruktur.

UEA, melalui Etihad Rail, berperan besar dalam pembiayaan dan pengelolaan proyek ini. Pembangunan jalur kereta ini juga menjadi bagian dari visi UEA untuk meningkatkan konektivitas kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Kota Paling Gila di China, Bandara Megahnya Dibangun dengan Ratakan 7 Gunung hingga Keruk 6 lembah

Pemerintah Yordania melihat jalur ini sebagai solusi untuk meningkatkan daya saing ekspor tambang negara tersebut.

Fosfat Yordania telah menjadi salah satu bahan baku penting dalam industri pupuk global, dan jalur kereta baru ini akan memungkinkan pengangkutan dalam volume yang lebih besar, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan metode transportasi saat ini.

Pelabuhan Aqaba, sebagai terminal akhir jalur ini, diproyeksikan akan semakin berkembang menjadi hub perdagangan strategis di Timur Tengah.

Baca Juga: Spektakuler! China Ledakkan 7 Gunung Demi Realisasi Proyek di Atas Awan Senilai Rp3,45 Triliun

Peningkatan aktivitas perdagangan di pelabuhan ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan negara.

Keberhasilan proyek ini juga diharapkan menjadi model kerja sama regional dalam pembangunan infrastruktur strategis.

Proyek ini memiliki implikasi yang lebih luas bagi kawasan Timur Tengah. Selain menjadi jalur utama untuk transportasi fosfat, inisiatif ini membuka peluang pengangkutan barang lainnya di masa depan.

Baca Juga: Pasar Tradisional Purwodadi Bertransformasi Cantik di Lahan 22.337 M², Tapi Lokasinya Bukan di Jawa Tengah

Dengan konektivitas yang lebih baik, kawasan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi asing, yang akan memperkuat posisi strategis Yordania dan UEA di pasar global.

Kerja sama strategis ini mencerminkan potensi besar dari integrasi ekonomi regional di Timur Tengah.

Dengan memanfaatkan sumber daya dan keahlian masing-masing negara, Yordania dan UEA berhasil mengidentifikasi solusi yang tidak hanya mendukung tujuan nasional mereka, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral dan menciptakan dampak positif yang melampaui batas geografis.***(Muhammad Arif)

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]