Proyek Nuklir Besutan Amerika Serikat Senilai USD 35,4 Miliar, Senjata Pemusnah Massal dalam 10 Detik

inNalar.com – Bagi sebagian orang terutama para pecinta film mungkin nama Oppenheimer sudah tidak terdengar asing lagi.

Terutama setelah penayangan film dengan judul “Oppenheimer” di tahun 2023 yang lalu, membuat publik lebih mengenal sejarah dunia karena diambil dari kisah nyata.

Film tersebut menceritakan seorang peneliti bernama J. Robert Oppenheimer dalam memimpin sebuah penelitian yang merupakan bagian dari proyek Manhattan.

Baca Juga: Berada di Ketinggian 2.245 Meter, Desa Unik di Nusa Tenggara Timur Ini Punya Nuansa Zaman Purba

Dimana proyek Manhattan ini merupakan sebuah inisiatif monumental yang berlangsung selama Perang Dunia II.

Yang tidak hanya memberi dampak pada arah perang yang berubah tetapi juga membentuk sejarah dunia modern.

Inisiasi proyek Manhattan dimulai pada sekitar tahun 1930, ketika kekhawatiran akan potensi pengembangan senjata nuklir oleh Jerman Nazi.

Baca Juga: Maritim RI Makin Kuat! Indonesia Gandeng Turki Buat Kapal Cepat Rudal Sepanjang 70 Meter

Pada saat itu para ilmuwan terkemuka seperti Albert Einstein dan Leo Szilard menyampaikan surat kepada Presiden Franklin D. Roosevelt.

Yang berisi peringatan bahwa Jerman mungkin sedang dalam proses menciptakan senjata berupa bom atom.

Hal tersebut membuat pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk memulai penelitian intensif tentang energi nuklir.

Baca Juga: Sedikit Lagi! Bendungan Sidan di Bali Bakal Rampung, Mampu Pasok Air Baku hingga 1.750 Liter per Detik

Penelitian tersebut berlokasi di Manhattan, New York. Dan membuat proyek ini memiliki nama yang sama dengan tempat tersebut.

Namun,seiring berjalannya waktu, proyek ini berkembang ke berbagai lokasi di seluruh Amerika Serikat, termasuk Los Alamos, Oak Ridge, dan Hanford.

Proyek penelitian skala besar secara resmi dimulai pada tahun 1942. Di bawah kepemimpinan Jenderal Leslie Groves dan ilmuwan J. Robert Oppenheimer.

Baca Juga: Transhipment Terbesar di Asia, Singapura Belah Lautan Demi Pelabuhan Otomatis: Kapasitas 65 Juta TEUs!

Proyek ini mengumpulkan lebih dari 130.000 orang yang bekerja di berbagai lokasi untuk mengembangkan senjata nuklir.

Yang di mana fase awal proyek berfokus pada penelitian tentang fisika nuklir dan pengembangan material seperti uranium dan plutonium.

Selama periode antara 1942 hingga 1946, penelitian skala nasional ini berhasil mengembangkan dua jenis bom atom yang bisa meluluh lantahkan negara Jepang.

Baca Juga: Patut Ditiru RI! Singapura Lawan Suhu Panas Lewat Penerapan Sains Dasar Pada Proyek Skala Nasional

Kedua bom atom tersebut adalah Little Boy, yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dan Fat Man, yang dijatuhkan di Nagasaki tiga hari kemudian.

Total anggaran dari proyek yang membuat pemusnahan massal ini mencapai sekitar 2 miliar dolar AS atau setara 35,4 miliar dolar AS dalam kurs saat ini.

Pembiayaan ini digunakan untuk membangun berbagai fasilitas penelitian dan produksi di berbagai lokasi strategi.

Pemusnahan massal yang dilakukan dengan senjata nuklir ini hanya membutuhkan waktu 10 detik untuk meluluhlantakkan kota hingga menelan korban jiwa.

Dalam progresnya proyek ini melibatkan beberapa lokasi kunci yang menjadi pusat penelitian dan produksi senjata nuklir.

Seperti Los Alamos di New Mexico berfungsi sebagai pusat penelitian utama di mana para ilmuwan merancang bom atom.

Hasil dari Proyek Manhattan sangat monumental, karena selain menandai pencapaian teknis yang luar biasa tetapi juga mengubah dinamika Perang Dunia II secara drastis.

Detonasi Little Boy dan Fat Man menyebabkan kehancuran besar-besaran dan berkontribusi pada penyerahan Jepang pada bulan September 1945.

Proyek milik Amerika Serikat ini sangat kontroversial dan menjadi salah satu contoh terburuk dari perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Sehingga membuat warisan juga dampak yang diberikan oleh Proyek Manhattan sangat kompleks.

Di satu sisi, proyek ini mempercepat perkembangan teknologi nuklir dan membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut dalam bidang energi nuklir untuk tujuan damai.

Di sisi lain, ia juga menciptakan tantangan etika terkait penggunaan senjata pemusnah massal.***

Rekomendasi