

inNalar.com – Indonesia sudah memiliki reaktor nuklir sejak tahun 1965. Inilah tokoh pertama pendirinya. Teknologi nuklir di negara kita belum dimanfaatkan di banyak sektor.
Mengingat nuklir memiliki jejak rekam sejarah, terutama dari perang dunia, tragedi Chernobly, dan kebocoran reaktor Fukushima pasca tsunami.
Meskipun demikian, Indonesia sudah memiliki dan memanfaatkan teknologi Nuklir pada tahun 1965.
Baca Juga: Mega Proyek Tenaga Nuklir Besutan Prabowo Subianto Bakal Digarap di Bangka Belitung?
Reaktor nuklir pertama RI, TRIGA Mark II, mulai beroperasi pada 20 Februari 1965, menjadi tonggak sejarah bagi pengembangan teknologi nuklir negeri kita.
Pembangunan reaktor ini merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang disepakati pada 11 Maret 1960.
Saat itu, Amerika berinvestasi sebesar 350.000 USD dalam proyek pembangunan TRIGA Mark II.
Proyek ini dirancang untuk tujuan damai dan riset, sesuai dengan visi Presiden Sukarno yang mengedepankan pemanfaatan teknologi nuklir untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk destruksi atau perang.
Prosesi peletakan batu pertama dilakukan pada 9 April 1960 dan dibangun di Bandung.
Adapun nama “TRIGA” sendiri adalah akronim dari Training, Research, and Isotope Production by General Atomic.
Sedangkan Mark II adalah nama reaktor, dan General Atomic adalah pabrik produksi yang ada di Amerika Serikat.
Saat selesai dibangun, reaktor TRIGA Mark II mamiliki kapasitas 250KW dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan radioisotop.
Radioisotop digunakan untuk memancarkan radiasi. Umumnya digunakan dibidang kesehatan dan industri.
Setelah resmi beroperasi pada 1965, reaktor ini terus mengalami pengembangan. Pada 4 Desember 1971, daya reaktor ditingkatkan menjadi 1 megawatt (MW) untuk memenuhi kebutuhan isotop yang semakin meningkat.
Peningkatan ini dilanjutkan pada 2000, ketika kapasitas reaktor dinaikkan menjadi 2 MW, dan nama reaktor diubah menjadi TRIGA 2000.
Reaktor ini tetap menjadi pusat riset penting di Indonesia, termasuk dalam pengembangan teknologi isotop yang digunakan untuk diagnosis dan terapi medis, serta aplikasi di sektor pertanian dan industri. Lantas, siapa pendiri dan penggagas proyek nuklir RI?
Baca Juga: Alasan Mega Proyek PLTB Yogyakarta dengan Investasi Rp 1,5 Triliun Tak Kunjung Terwujud
Melansir dari YouTube Arsip Nasional RI, terbongkar Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno lah penggagas sekaligus yang meresmikannya.
Reaktor TRIGA 2000 telah menjadi simbol kemajuan teknologi nuklir Indonesia sekaligus warisan sejarah berharga di Kawasan Nuklir Bandung.
Ilmuwan yang senantiasa mendukung ambisi Presiden Ir Soekarno kala itu adalah Prof. Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy yang kala itu juga menjabat sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional.
Meski demikian, perjalanan reaktor ini tidak selalu mulus. Tantangan seperti minimnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat teknologi nuklir sering kali menjadi penghalang dalam pengembangannya.
Oleh karena itu, BATAN dan pemerintah terus berupaya meningkatkan kesadaran publik tentang potensi nuklir, termasuk melalui edukasi dan promosi hasil riset.
Reaktor TRIGA 2000 bukan hanya alat riset, tetapi juga simbol komitmen Indonesia untuk memanfaatkan teknologi nuklir secara damai dan bertanggung jawab.
Dengan sejarah panjang yang dimulai dari visi besar Sukarno, reaktor ini terus menjadi bagian penting dari perjalanan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Kedepannya, Indonesia diharapkan semakin mengembangkan pemanfaatan teknologi nuklir. Terutama pemanfaatannya dalam pembangkit listrik.***(Muhammad Arif)