

inNalar.com – Jembatan adalah salah satu infrastruktur vital yang berfungsi sebagai penghubung antar wilayah, memudahkan mobilitas orang dan barang, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia, pengembangan infrastruktur seperti jembatan terus dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan konektivitas antar daerah dan menciptakan kemajuan bagi negara.
Salah satu proyek ambisius yang pernah diwacanakan adalah pembangunan jembatan termahal kedua di dunia, yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatera melalui Provinsi Lampung.
Melansir Financial Times pada Senin, 18 November 2024, mega proyek ini menarik perhatian dunia karena tidak hanya memiliki panjang yang luar biasa, yaitu sekitar 30 kilometer, tetapi juga diperkirakan akan menjadi jembatan termahal kedua di dunia, dengan biaya mencapai Rp 225 triliun.
Lebih lanjut, jembatan tersebut menjadi penghubung langsung antara Banten, di Pulau Jawa, dengan Bakauheni di Pulau Sumatera,
Sehingga dapat memotong jarak yang sebelumnya hanya dapat dilalui melalui jalur laut.
Baca Juga: Pengumuman Kelulusan SKD CPNS 2024, Ini Daftar Instansi Pusat dan Link Resmi Cek Hasilnya
Dengan lebar sekitar 60 meter, jembatan ini dirancang memiliki dua jalur utama untuk lalu lintas kendaraan (2×3 jalur) dan dua jalur darurat (2×1 jalur), sehingga akan memudahkan pergerakan orang dan barang antar pulau.
Pembangunannya pun bertujuan untuk meningkatkan konektivitas yang lebih efisien antara dua pulau terbesar di Indonesia, yang selama ini mengandalkan transportasi laut yang memakan waktu dan biaya yang lebih tinggi.
Rencananya, ketika selesai dibangun jembatan termahal ke 2 di dunia tersebut mampu membawa dampak signifikan terhadap peningkatan mobilitas dan konektivitas antara Jawa dan Sumatera.
Baca Juga: Tertinggi di Jawa Tengah? UMK Kota Semarang Tembus Rp 3 Juta Lebih
Terutama bagi masyarakat yang tinggal di kedua pulau tersebut, jembatan ini akan menyediakan akses darat yang lebih cepat dan langsung.
Peningkatan konektivitas ini juga diyakini dapat memperlancar distribusi barang, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Selain itu, bagi para pengendara, perjalanan melintasi jembatan ini akan disertai pemandangan yang menakjubkan.
Baca Juga: Viral Aksi Siswa di SMPN 3 Gowa Injak Teman Kelas, Korban Diduga Meninggal Dunia
Mereka akan melewati kawasan yang memadukan keindahan alam pegunungan dan laut, menciptakan pengalaman visual yang luar biasa. Jembatan ini tentu akan menjadi landmark baru yang mempercantik lanskap Indonesia.
Nama proyek tersebut sejatinya dikenal “Jembatan Selat Sunda”, konsep pembangunan jembatan ini pertama kali diusulkan oleh seorang ahli teknik, Sedyatmo, pada tahun 1960 melalui konsep Tri Nusa Bimasakti, yang bertujuan untuk menghubungkan tiga pulau besar di Indonesia: Jawa, Sumatera, dan Bali.
Walaupun rencana tersebut sudah ada sejak lama, baru belakangan ini pembangunan jembatan ini mulai dipertimbangkan lebih serius.
Baca Juga: Maraknya Jeratan Pinjol, BRI Siapkan Strategi Cerdas Mengelola Keuangan bagi Anak Muda
Pada tahun 2010, perencanaan untuk jembatan ini kembali digulirkan dengan perkiraan biaya yang bisa mencapai Rp 225 triliun.
Namun, pada tahun 2013, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa jika dana tersebut dialokasikan dari APBN, maka hal itu dapat memicu protes dari daerah lain, seperti Papua, Kalimantan, dan Aceh, yang juga membutuhkan pembangunan infrastruktur penting.
Membangun jembatan Selat Sunda bukanlah pekerjaan mudah. Proyek ini menghadapi sejumlah tantangan teknis dan keamanan yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Presiden RI Prabowo Subianto Ambisikan Proyek Nuklir, Indonesia Mampu Saingi AS dan Rusia?
Salah satunya adalah memastikan bahwa pembangunan jembatan ini aman dan tahan lama.
Masalah teknis lain yang harus diperhitungkan adalah kondisi geologi dan seismik wilayah tersebut, karena jalur jembatan akan melewati daerah yang berdekatan dengan Gunung Krakatau, yang masih aktif hingga saat ini.
Selain itu, perencanaan juga harus mencakup upaya konservasi lingkungan dan pemulihan ekosistem di sekitar kawasan jembatan.
Baca Juga: Rampung Akhir 2024, Pemugaran Benteng di Jawa Tengah Senilai Rp141,2 Miliar Ini Sampai Gusur 7 Rumah
Mengingat pentingnya proyek ini, pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan jembatan tidak mengganggu keseimbangan alam dan ekosistem sekitar.
Jembatan Selat Sunda merupakan proyek ambisius yang diharapkan dapat meningkatkan mobilitas antar pulau di Indonesia. Namun, proyek ini juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dikelola dengan hati-hati.
Di samping tantangan teknis dan geologis, pembangunan jembatan ini juga harus memperhatikan keberlanjutan dan dampak lingkungan yang mungkin timbul selama dan setelah konstruksi.
Walaupun menarik untuk menyatukan dua pulau terbesar di Indonesia dengan satu infrastruktur darat, keberhasilan proyek ini memerlukan perencanaan yang matang dan perhatian terhadap berbagai faktor, baik teknis maupun sosial.
Dengan pendekatan yang tepat, Jembatan Selat Sunda dapat menjadi salah satu pencapaian besar bagi Indonesia, yang tidak hanya menghubungkan dua pulau besar, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi seluruh negeri.