Cuan Rp 1.000 Triliun, 2 Proyek Besar Prabowo Ini Buat Batam dan Kalimantan Utara Hilang dari Peta Dunia


inNalar.com – 
Indonesia tengah berada di persimpangan besar dengan proyek-proyek besar yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Dua proyek besar Prabowo memang berpotensi menghasilkan cuan hingga Rp 1.000 triliun setiap tahunnya.

Kendati begitu, mega proyek ini juga mengancam pulau Batam dan Kalimantan Utara hilang dari peta dunia akibat dampaknya.

Baca Juga: Ganyang Rp 225 Triliun, Jembatan Termahal ke-2 di Dunia Ini Bakal Satukan Pulau Jawa dan Sumatera

Dinilai menjadi bom waktu sebab kelihatannya Indonesia dapat menikmati asupan hasil megaproyek dengan rentang cuan Rp900 – 1.000 triliun setiap tahunnya.

Namun di balik manisnya cuan dari negara asing, diam-diam Pulau Nipah di Batam dan Pulau Sebatik di Kalimantan Utara nyaris tenggelam gegara kerukan yang diambil demi ekspor pasir laut.

Proyek tersebut sempat dihentikan Presiden RI ke-5 Megawati dan tidak digubris oleh kepemimpinan berikutnya. Kebijakan penutupan ekspor pasir laut tertutup selama 20 tahun.

Baca Juga: Nominal Capai Rp5,3 Juta, Kota di Pinggiran Jakarta Ini Sabet Daerah dengan UMK Terbesar di Jawa Barat

Sorotan miris yang penuh dengan ironi dari para pengamat ekonomi hingga pemerhati alam pun kembali menajam tatkala Presiden RI ke-7 Jokowi memutuskan untuk membuka keran ekspor.

Keputusan yang disahkan dalam Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 16 Tahun 2024 dinilai Jokowi kala itu tidak kontroversial.

Pasalnya yang diekspor hanyalah pasir sedimen yang pada dasarnya memang cukup mengganggu jalur pelayaran, setidaknya demikian ditegaskan oleh Jokowi saat menampik kekhawatiran sejumlah pihak.

Baca Juga: Pengumuman Kelulusan SKD CPNS 2024, Ini Daftar Instansi Pusat dan Link Resmi Cek Hasilnya

Kini proyeknya pun menjadi proyek primadona di era Prabowo yang diharap menjadi salah satu penggenjot pertumbuhan RI hingga 8%.

Melansir dari JDIH KKP pada Selasa, 19 November 2024, terdapat sejumlah tanah berpasir di pesisir Indonesia yang menjadi bidikan ekspor pasir laut.

Bukan lagi Pulau Nipah Batam yang sempat disorot nasional tahun 2000 silam, tetapi dalam SK KKP ditetapkan ada sejumlah wilayah lainnya di Kepulauan Riau yang menjadi target pengerukan ekspor.

Mulai dari Laut Natuna Utara seperti Pulau Karimun, Lingga, dan Bintan dengan volume sedimentasi lautnya mencapai 9.090.961.336,11 meter kubik.

Tidak hanya menyorot dataran sekitar Kepulauan Riau, pesisir sekitar Selat Makassar pun juga dibidik volume sedimentasinya sebesar 2.979.965.639,58 meter kubik.

Pesisir Pulau Jawa di Kabupaten Karawang, Indramayu, Cirebon, Surabaya, hingga Demak pun masuk dalam daftar.

Menyadur dari YouTube Ngomongin Uang, hasil ekspor pasir laut pada tahun 2002 silam disebut mencapai Rp200 triliun.

Lantas, negara asing mana saja yang menjadi penikmat ekspor pasir laut Indonesia?

Negara asing yang paling menggemuk berkat ekspor hasil laut Indonesia rupanya adalah Singapura.

Rekam jejak transaksi ekspor pasir alam tercatat mencapai 8,8 juta USD dengan volume impor komoditas ke negara kita sebanyak 3,6 juta ton di tahun 2023.

Selanjutnya ada Malaysia yang sempat menjadi negara destinasi ekspor pasir laut Indonesia, transaksi terbesarnya di tahun 2005 dengan kebutuhan komoditas yang diekspor RI mencapai 116.311 ton atau setara 222.000 USD.

Lalu negara penikmat pasir laut RI selanjutnya ada China. Proyek reklamasi besar-besaran demi membangun kota baru sempat membuat negara tersebut mengimpor 129.700 ton dengan nilai transaksinya mencapai 454.000 USD.

Kendati disebut komoditas ekspor laut yang dibuka kerannya adalah hasil sedimentasi yang dinilai tidak membahayakan pulau-pulau sekitar, tetapi Ekonom Wijayanto Samirin menyebut megaproyek Prabowo ini akan menjadi bom waktu.

Terlihat memberi kenikmatan, tetapi dapat berujung kerusakan lingkungan.***

Rekomendasi