

inNalar.com – Biasa dibacakan sebelum shalat subuh, bacaan tarhim adalah bacaan shalawat yang dikumandangkan oleh masjid atau musala di Indonesia sesaat sebelum azan.
Diawali dengan assolatuwassalamualaik, tahrim subuh biasanya dibacakan oleh qori atau orang yang saat itu sering melakukan shalawat di musala atau masjid sekitar.
Namun, mengenai shalawat tarhim subuh juga merupakan shalawat yang ditunjukan kepada umat nabi Muhammad yang dibacakan sebelum azan dikumandangkan.
Baca Juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Kelas 2 SD Tema 4 Halaman 60 61 Tentang Sisi dan Sudut Bangun Datar
Mengenai lafadz tarhim subuh juga akan dijelaskan berikut ini lengkap dengan artinya dan bahasa arab nya.
Selain itu, sama halnya dengan tarhim ramadhan, jika tarhim subuh sering dibacakan sebelum azan dikumandangkan di musala atau masjid sekitar.
Mengenai shalawat tarhim subuh, berikut ini akan dijelaskan secara lengkap dari arab, latin dan artinya juga.
Baca Juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 4 Kelas 2 SD Halaman 62 63, Pembelajaran 2 Subtema 2
Salawat Tarhim adalah sebuah bacaan selawat yang ditujukan kepada nabi umat Islam Muhammad dan dikumandangkan oleh masjid atau musala di Indonesia sesaat sebelum azan.
Pada umumnya shalawat ini diperdengarkan sesaat sebelum azan subuh untuk memberikan aba-aba kepada muslim yang akan menunaikan shalat subuh.
Sekaligus peringatan bagi muslim yang berpuasa untuk segera menyelesaikan sahur sebab akan memasuki waktu subuh atau imsak.
Baca Juga: Website PT LIB Dihack: Aparatnya Ga Negertiin, Supporternya Norak, Belain Tim Bola Kaya Bela Agama
Bacaan ini diciptakan dan direkam oleh Syekh Mahmud Kholil Al Hussary pada 1959 dan pertama kali masuk Indonesia pada 1960 oleh Studio Lokananta dan disiarkan pertama kali oleh Radio Yasmara A.M Surabaya.
Berikut ini adalah bacaan tarhim, dari teks Arab, latin, dan juga artinya:
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ
۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ
وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ
وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞
يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞
صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞
Bacaan tarhim latin:
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya imamal mujahidîn ya Rasulallah
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya nashiral huda ya khayra khalqillaah
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya nashiral haqqi yâ Rasulallah
Ash-shalatu was-salamu ‘alayk
Ya Man asro bikal muhayminu laylan nilta ma nilta wal-anamu niyamu
Wa taqaddamta lish-shalati fashalla kulu man fis-samai wa antal imamu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntaha rufi’ta karîman wa sai’tan nida ‘alaykas salam
Ya karîmal akhlaq yâ Rasulallah
Shallallahu ‘alayka wa ‘ala alika wa ashhabika ajma’in
Arti bacaan tarhim:
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Perlu diketahui, jika bacaan tarhim ini diciptakan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Husshari (1917-1980), yang merupakan seorang qari’ ternama lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Kemudian shalawat ini sampai di Indonesia pada tahun 1960-an, di mana saat itu, Syeikh Mahmud diminta untuk merekam Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo.
Hasil rekaman ini lalu disiarkan oleh Radio Lokananta, Solo, dan juga Radio Yasmara, yang ada di Surabaya. Inilah yang kemudian menjadi awal mula bacaan tarhim populer dan banyak dikumandangkan di Indonesia.***