

inNalar.com – Hujan air terjun yang sempat viral di Bekasi kemarin ternyata bukan microburst, simak begini penjelasannya.
Peristiwa hujan air terjun yang diunggah pertama kali oleh netizen dengan akun @cutsarina5 itu ternyata bukan fenomena alam sebagaimana yang sempat viral.
Ternyata, hujan air terjun yang terjadi di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi itu disebabkan oleh tumpahan talang air dari atap stadion yang menyerupai air terjun.
Pernyataan itu muncul dari komentar netizen lain yang berada di lokasi, pemilik akun @hendro.574 mengklarifikasi bahwa itu bukan hujan air terjun, melainkan tumpahan dari talang air atap stadion di Bekasi tersebut.
“Itu bukan hujan air terjun, tapi air dari atap stadion yang patah, udah pernah liat sebelumnya,” tulis seorang netizen seperti dilansir dari Instagram @liputancikarang yang merupakan media berita lokal warga Bekasi.
Pernyataan ini juga dikuatkan oleh keterangan pedagang yang berada di lokasi sekitar.
“Bukan karena alam, tapi karena talang air di atas stadion patah harusnya masuk ke pelaron, terus ga bisa nampung air jadinya pas jatuh kayak hujan air terjun,” ungkap Maisaroh, pedagang yang tinggal di area Stadion Wibawa Mukti.
Menurut Maesaroh, peristiwa seperti itu memang sering terjadi terutama saat turun hujan deras di wilayah stadion.
“Emang sering gitu kalau hujan deras, tapi kalau hujannya kecil sih engga,” terangnya.
Merespon ini, Kapolsek Cikarang Timur AKP Bambang Krisnadi mengatakan, peristiwa hujan air terjun yang deras di Kabupaten Bekasi itu dipastikan bukan fenomena alam.
Pasalnya, setelah ditelusuri, tumpahan air tersebut berasal dari talang air stadion yang patah akibat curah hujan tinggi.
“Hasil penelusuran kami jadi itu merupakan talang air, jadi dari talang air itu kemudian jatuh airnya, kebetulan juga tadi abis hujan, jadi bukan fenomena alam,” jelas Bambang seperti dikutip dari Instagram @infokrw pada Rabu, 9 November 2022.
Dia menduga, warganet yang merekam peristiwa tersebut melihatnya dari kejauhan, sehingga tidak melihat jelas bahwa air berasal dari atap stadion dengan tinggi 15 meter itu.
Lebih lanjut, pihak kepolisian setempat memastikan, itu adalah pembuangan air dari stadion yang mengalir ke talang air namun patah lalu kemudian jatuh ke tanah.
Terlepas dari peristiwa unik itu, fenomena microburst memang ada. Bentuk hujan disertai angin kencang ini bergerak secara vertikal ke bawah. Biasanya microburst terbentuk dari munculnya awan Cumulonimbus.
Sehingga, meski hujan air terjun sebagaimana diduga warganet itu bukan fenomena alam, masyarakat tetap perlu waspada dengan kemunculan microburst yang tidak bisa diprediksi waktu serta lokasinya.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi