

inNalar.com – Ini adalah artikel yang berisikan tentang khutbah Jumat singkat dengan tema hati hati lisan bisa membawa malapetaka.
Artikel khutbah Jumat singkat ini dapat dibawakan saat sholat Jumat atau pada kegiatan keagamaan lainnya untuk umat Islam.
Pada artikel khutbah Jumat singkat yang dikutip dari situs resmi Universitas Islam Nusantara ini berjudul hati hati lisan bisa membawa malapetaka.
Laki laki sebagai umat Islam wajib hukumnya untuk melaksanakan sholat Jumat di Masjid.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,6 Berpusat di Cianjur, Getaran Terasa sampai Bekasi dan Jakarta
Begitu juga dengan mendengarkan khutbah Jumat singkat pada saat melaksanakan sholat Jumat ini.
Mendengarkan khutbah Jumat singkat ini dapat meningkatkan keimanan dan ketenangan batin.
Dengan tema hati hati lisan bisa membawa malapetaka inilah isinya.
Simak khutbah Jumat singkat dibawah ini.
Assalamualaikum wr.wb
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Baca Juga: Breaking News! Telah Terjadi Gempa Bumi di Wilayah Jabodetabek pada Hari Ini 21 November 2022
Di antara semua anggota badan itu yang paling krusial adalah lisan.
Lisan merupakan perangkat di dalam tubuh manusia yang bisa menimbulkan manfaat, namun sekaligus mudarat yang besar bila tak benar penggunaannya.
Karena itu ada pepatah Arab mengatakan, salâmatul insan fî hifdhil lisân (keselamatan seseorang tergantung pada lisannya).
Melalui kata-kata, seseorang bisa menolong orang lain. Dan lewat kata-kata pula seseorang bisa menimbulkan kerugian tak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.
Karena saking krusialnya, Islam bahkan hanya memberi dua pilihan terkait fungsi lisan: untuk berkata yang baik atau diam saja. Seperti bunyi hadits riwayat Imam al-Bukhari:
Baca Juga: Gempa Bumi Terkini M 5,6 Guncang Cianjur, Jawa Barat, Begini Kata BMKG
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَـيْرًا أَوْ لِيَـصـمُــتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”
Rasulullah mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentang bagaimana sebaiknya lisan digunakan. Keimanan adalah hal mendasar bagi umat Islam.
Ini menunjukkan bahwa urusan lisan bukan urusan main-main.
Hadits di atas bisa dipahami sebaliknya (mafhum mukhalafah) bahwa orang-orang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah dan hari akhir.
Baca Juga: Contoh Teks Pidato Perayaan Hari Guru Nasional 2022 Singkat dan Jelas Tanggal 25 November 2022
Kenapa dihubungkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhirat?
Hal ini tentang pesan bahwa segala ucapan yang keluarkan manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah.
Ucapan itu juga mengandung pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia melainkan di akhirat pula.
Orang yang berbicara sembrono, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian terhadap keyakinan bahwa Allah selalu hadir menyaksikan dan hari pembalasan pasti akan datang.
Allah juga mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan kita.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf :18)
Banyak hal kotor yang dapat muncul dari lisan. Seperti ghibah atau membicarakan keburukan orang lain.
Ghibah mungkin bagi sebagian orang asyik sebagai kembang obrolan, namun ia mempertaruhkan reputasi orang lain, memupuk kebencian, serta merusak kepercayaan dan kehormatan orang lain.
Baca Juga: Ungkap Perasaan Hamil Anak Kedua, Dinda Hauw: Rasanya Lebih Semangat, Gak Semanja Dulu
Contoh lain adalah fitnah. Yakni, senagaja menebar berita tak benar dengan maksud merugikan pihak yang difitnah.
Fitnah umumnya berujung adu domba, hingga pertengkaran bahkan pembunuhan. Sifat ini sangat dibenci Islam.
Fitnah masuk dalam kategori kebohongan namun dalam level yang lebih menyakitkan.
Inilah relevansi manusia dikarunia akal sehat, agar ia berpikir terhadap setiap yang ia lakukan atau ucapkan.
Baca Juga: Cut Syifa Takut Kualat Saat Bahas Tajwid Cinta Bersama Netizen, Ternyata Adegan Ini Jadi Penyebabnya
Berpikir tentang nilai kebaikan dalam kata-kata yang akan kita ucapkan, juga dampak yang bakal timbul setelah ucapan itu dilontarkan.
Ini penting dicatat supaya kesalahan tak berlipat ganda karena lisan manusia yang tak terjaga.
Politisi yang sering mengingkari janji itu buruk, tapi akan lebih buruk lagi bila ia juga tak pandai menjaga lisannya.
Pejabat yang gemar berbohong itu buruk namun akan lebih buruk lagi bila ia juga pintar berbicara. Dan seterusnya.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَـافُ عَلَيْــكُمْ بَعْدِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِـيمُ اللِّسَانِ
“Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafiq yang pintar berbicara” (HR At-Tabrani).
Jamaah shalat Jumat rahimakumullâh,
Di zaman modern ini, ucapan atau ujaran tak semata muncul dari mulut tapi juga bisa dari status Facebook, cuitan di Twitter, meme di Instagram, konten video, dan lain sebagainya.
Media sosial juga menjadi ajang ramai-ramai berbuat ghibah, fitnah, tebar kebohongan, provokasi kebencian, bahkan sampai ancaman fisik yang membahayakan.
Makna lisan pun meluas, mencakup pula perangkat-perangkat di dunia maya yang secara nyata juga mewakili lisan kita.
Dampak yang ditimbulkannya pun sama, mulai dari adu domba, tercorengnya martabat orang lain, sampai bisa perang saudara.
Karena itu, kita seyogianya hati-hati berucap atau menulis sesuatu di media sosial.
Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap yang wajib dilakukan untuk menjamin bahwa apa yang kita lakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat. Sekali lagi, ingatlah bahwa Allah mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan kita, baik hasil lisan kita maupun ketikan jari-jari kita di media sosial.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaf: 18).***