

inNalar.com – Berikut adalah teks khutbah Jumat 16 Desember 2022, tentang rahasia besar di balik bacaan istighfar.
Teks khutbah Jumat ini terbilang cocok untuk disampaikan kalimat istighfar merupakan kalimat yang sering kita ucapkan.
Bacaan istighfar merupakan kalimat istimewa dalam agama Islam.
Membaca istighfar secara harfiah dilakukan secara berulang-ulang dengan kalimat astagfirullah yang mempunyai arti “Saya memohon ampunan kepada Allah.”
Jika rutin membaca istighfar untuk memohon ampunan, maka Allah juga akan memberikan balasan.
Banyak sekali manfaat yang didapat saat membaca istighfar di antaranya menghapus dosa, mengabulkan doa, membuka pintu rezeki dan lain sebagainya.
Baca Juga: Tips agar Wajah Glowing dari dr Zaidul Akbar, Ternyata Cukup Lakukan Dua Hal Ini
Dilansir inNalar.com dari laman Tebuireng Online, simak teks khutbah Jumat tentang rahasia besar di balik bacaan istighfar.
الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُ لاَمَثِيلَةَ لَهُ ولَا ضِدَّ ولانِدَّ له
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً تَعْدِلُ جَمِيْعِ صَلَوَاتِ اَهْلِ مَـحَـبَّـتِكَ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْ
اما بعد
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اوصيكم واياي بتقوى الله فقد فاز المتقون
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sebagai muslim, kita harus senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Itulah yang disebut takwa, dalam hal ketakwaan ini mari kita koreksi dan mawas diri.
Sehingga ketakwaan kita semakin meningkat.
Imam Ahmad ibn Hambal, ulama besar pendiri mazhab Hambali, di masa akhir hidupnya beliau berkeinginan pergi ke kota Basrah.
Padahal dia tidak ada janji dengan sebuah permainan kata, karena saking (sangat) inginnya maka dia memutuskan untuk pergi.
Bahkan dalam sejarahnya, ketika beliau tiba di sana pada waktu salat Isya’ dan melakukan jamaah, beliau merasa sangat tenang.
Setelah selesai beliau ingin beristirahat. Namun, beliau ditegur oleh marbot masjid, “wahai syekh, apa yang Anda lakukan di sini?”
Marbot tidak tahu bahwa yang ditegur adalah Imam Ahmad bin Hambal.
Maklum waktu itu belum ada foto, sehingga dia jarang dikenal orang.
Beliau menjawab, “saya ini musafir, saya ingin istirahat, saya mau tidur.”
Namun sang marbot menghadapi Imam Ahmad bin Hambal dengan kasar, bahkan didorong.
Dan pintu masjid ditutup rapat, akhirnya Imam Ahmad ibn Hambal ingin tidur di teras masjid.
Baca Juga: Belanda vs Argentina Piala Dunia 2022: Preview Susunan Pemain dan Kabar Terbaru Jelang Pertandingan
Tiba-tiba sang marbot mendatanginya lagi dengan marah-marah, sambil berkata, “syekh mau ngapain syekh?”
Kemudian Imam Ahmad meninggalkan masjid tersebu, langkah beliau terhenti ketika melihat penjual roti yang sedang mengaduk adonannya.
Penjual itu tahu kejadian yang menimpa Imam Ahmad. Penjual itu merasa iba.
Dari kejauhan penjual roti itu memanggil Imam Ahmad, “Ya Syekh, sini. Silakan tidur di tempat saya, walaupun tempatnya kecil.”
Baca Juga: Pemasangan Bleketepe dalam Acara Siraman Kaesang Pangarep, Simak Makna dan Cara Pemasangannya
Begitu Imam Ahmad duduk di belakang penjual roti, dia melihat gelagat aneh.
Si penjual tidak berbicara ketika ia tidak diajak bicara, saat tidak bicara penjual roti itu terus membuat adonan roti sambil istighfar.
Ketika menaruh garam, baca Astagfirullah. Ketika pecah telur, baca istigfar. Ketika mengaduk gandum juga begitu. Sampai-sampai Imam Ahmad penasaran.
Karena sangat penasarannya, Imam Ahmad bertanya, “Mas sudah berapa lama Anda melakukan kebiasaan ini?”
“Oh, sudah lama sekali Syekh, saya menjual roti sudah tiga puluh tahun.” Jawab penjual roti.
Lalu Imam Ahmad kembali bertanya, “apa efek yang Anda rasakan atas kebiasaan Anda?”
“Semua keperluan saya pasti dikabulkan, kecuali satu keinginan saya belum dikabulkan.” Jawab penjual roti itu.
“Apa itu?”, tanya Imam Ahmad.
Baca Juga: Belum 1 Tahun Debut, Jinni NMIXX Putuskan Keluar dari JYP Entertainment: Ternyata Ini Penyebab
“Saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad ibn Hambal.” Jawab penjual roti.
Mendengar jawaban itu Imam Ahmad langsung takbir, Allahuakbar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Jadi seperti itulah teks khutbah Jumat tentang rahasia besar dibalik bacaan istighfar, semoga bermanfaat dan membantu.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi