Gus Baha: Orang yang Merasa Tawadhu Itu Hakikatnya Dia Sombong, Kok Bisa? Begini Ternyata Penjelasannya

inNalar.com – Ulama muda KH Bahauddin Nursalim atau sering disapa Gus Baha jelaskan hakikat dari tawadhu, yakni tak sekedar merendahkan diri.

Sudah menjadi hal umum bahwa tawadhu memiliki arti seseorang yang rendah diri. Namun pengertian ini berbeda dengan Gus Baha.

Gus Baha justru menyebut kebalikannya, orang yang merasa dirinya tawadhu hakikatnya ia telah terjerumus dalam kesombongan.

Baca Juga: Link Nonton Sinetron Aura Beserta Sinopsis, Menanti Kembalinya Natasha Wilona di SCTV

Mengapa demikian? Simak alasannya sebagaimana dikutip dari Youtube SANTRI OFFICIAL yang diunggah 28 Januari 2022.

Sebelumnya, kyai muda yang berasal dari Rembang itu menerangkan bahwa sombong merupakan urusan hati, jadi tidak ada yang mengetahuinya.

“Takabur itu urusan hati. Yang tau siapa?, kata Gus Baha.

Baca Juga: Resep Camilan Simpel Spesial Perayaan Hari Raya Natal 2022: Christmas Green Tea Cookies

Bahkan dirinya mengaku alim itu sudah menjadi hal yang biasa, dalam artian bukan sebuah kesombongan.

Justru orang yang merasa tawadhu itulah hakikat dari sebuah kesombongan menurut penuturan Gus Baha.

Adapun alasannya yaitu seseorang yang merasa tawadhu berarti ia telah menempatkan dirinya pada posisi mulia tersebut.

Baca Juga: Streaming Drama Korea Reborn Rich Episode 12 Sub Indo di Link Ini: Song Joong Ki Buru Dalang Pembunuhan

Alhasil kata Gus Baha, orang tersebut lebih sombong daripada orang yang mengaku alim.

“Kenapa kamu tidak ngaku alim? Karena tawadhu. Berarti kamu mengaku tawadhu. Itu sudah lebih sombong daripada saya,” ungkap ulama muda tersebut.

Lebih lanjut, ia juga menyebutkan pernyataan yang ada dalam kitab Hikam tentang hal demikian.

Baca Juga: Spoiler Sinetron Aura Episode Awal yang Bakal Segera Hadir di SCTV, Natasha Wilona Jadi Tokoh Penting

Dalam kitab itu menjelaskan orang yang mengaku dirinya merasa tawadhu hakikatnya ia telah sombong.

Hal itu karena tawadhu merupakan suatu harkat yang tinggi. Jadi, suatu kesombongan apabila ada orang mengaku mencapai derajat itu.

“Tawadhu itu harkat paling tinggi,” ujar Gus Baha.

“Kok ada orang merasa tawadhu, berarti dia telah sombong,” tutupnya.

Itulah hakikat dari ketawadhuan yang jarang dipahami oleh banyak orang menurut Gus Baha.***

Rekomendasi