Ramadhan 2023: Inilah Syarat-Syarat Sah Puasa, Muslim Wajib Tahu Berikut


inNalar.com
 – Bulan suci Ramadhan 2023/1444 H tiba sebentar lagi. Bagi umat Islam bulan Ramadhan adalah momen paling penuh berkah.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan awal Ramadhan 2023 akan jatuh pada hari Kamis, 23 Maret 2023.

Ketetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 1/MLM/I.0/E/2023 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1444 Hijriah.

Baca Juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadhan 2023 M atau 1444 H, Lengkap Seluruh Daerah di Indonesia

Adapun untuk 1 Syawal 1444 H, Muhammadiyah menetapkan pada Jumat, 21 April 2023.

 
Ibadah shaum atau yang lebih dikenal dengan puasa, adalah ibadah yang wajib bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia apabila bulan Ramadhan tiba.
 
Meski begitu, tidak semua umat islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. 
Artinya ada orang-orang tidak terhukumi dosa ketika tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. 
 
 
Berikut syarat seseorang yang terkena kewajiban ibadah puasa pada bulan Ramadhan:
 
1. Beragama Islam
 
Apabila bukan beragama islam maka tidak dikenakan kewajiban puasa. 
Allah berfirman dalam surat al-Baqaroh dengan hanya menyeru kepada orang-orang yang sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk berpuasa.
 
2. Baligh
 
Baligh adalah batasan seseorang untuk terkena hukum agama.  Ada banyak pendapat ulama terkait batasan baligh ini.
 
Namun yang paling dikenal adalah bagi laki-laki yang sudah pernah mimpi yang mengakibatkan keluar air mani, maka sudah termasuk baligh. 
 
Sedangkan untuk wanita, apabila sudah datang haid, maka sudah tergolong baligh. Apabila seseorang belum mencapai baligh. Maka baginya tidak berdosa jika tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
 
3. Berakal
 
Seseorang yang tidak berakal atau belum sempurna akalnya, seperti orang dalam gangguan jiwa, orang yang sedang kesurupan, atau orang yang sedang mengigau dalam tidurnya. 
 
 
Maka apabila orang-orang tersebut tidak melaksanakan ibadah puasa sebagaimana mestinya, mereka tidak akan dihukumi berdosa. 
 
4. Suci dari Haid dan Nifas
 
Bagi wanita yang masih normal, hampir tidak bisa melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. 
 
Wanita memiliki siklus menstruasi yang rutin sebulan sekali. Perempuan dianugrahi kodrat untuk melahirkan. 
 
 
Pasca melahirkan, wanita masih mengeluarkan darah nifas akibat dari persalinan yang sudah dilakukan. 
 
Tentu berapa lama darah nifas keluar setiap wanita berbeda-beda. Namun, dalam kondisi wanita yang sedang mengalami masa menstruasi ataupun pasca melahirkan, maka puasa yang tidak dikerjakannya harus diganti di lain hari atau dengan cara memberi makan fakir miskin (fidyah).
 
5. Tidak dalam keadaan udzur syar’i
 
Udzur syar’i adalah keadaan dimana seseorang memiliki halangan untuk melakukan suatu perbuatan yang dibenarkan secara syari’at. 
 
Diantaranya orang yang sedang dalam sakit parah, yang apabila dia berpuasa akan memperparah kondisi kesehatannya.
 
 
Ada juga beberapa kondiri yang diperbolehkan tidak melaksanakan ibadah puasa, seperti orang yang dalam perjalanan dengan jarak tertentu ataupun ibu yang sedang menyusui.
 
Namun seperti halnya kondisi yang haid dan nifas di atas, maka dalam kondisi ini puasa yang tertinggalnya wajib diganti di hari lain atau memberi makan fakir miskin dengan takaran yang sudah ditentukan.
 
Demikian pembahasa syarat melakukan ibadah puasa. Islam pada dasarnya tidak memberatkan para pemeluknya untuk menjalankan suatu ibadah.***
 
Sumber: Fikih 5 Mazhab, Karya Jawwad Mughniyah
Oleh: farhanhikam

Rekomendasi