

Duduk di kursi kayu, mataku menantang purnama
Gejolak rasa tak mampu ku lawan
Berharap sebuah kabar di tengah gempita malam Jogja
Satu jam berlalu, dering handphone tak kunjung ku dengar
Entahlah, Adinda!
Tiap detik ini, aku meridukan senyum seringai cantikmu
Ku coba hapuskan rasa
Rasa di mana kau melayang jauh dari mimpiku, juga jiwaku
Biarlah
Hariku terbelenggu menyimpan cantikmu
Tapi, kau bisikkan kata cinta
Dan kau tlah percikkan rasa sayang
Lantas apa yang harus aku lakukan
Inferior di tengah malam
Atau menemani senja menjemput petang?
Perihal hati, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta
Bukan pula orang yang mudah mengubah rasa
Jika namamu sudah tertulis di dada, sangat sulit tuk dihapusnya
Apalagi perihal rasa, jujur aku tak bisa mengingkari
Segenap hatiku kamulah pemilik tunggalnya
Dan yang harus kamu tahu, saat ini engkaulah segala emosiku
Sedih, tawa, cemburu dan bahagiaku adalah kamu
Tapi sayangnya, kamu belum tentu memiliki perasaan yang sama
Mungkin kita butuh waktu yang cukup lama untuk menyelaraskan rasa
Rasa tak mau saling meninggalkan, nyaman dalam setiap pelukan
Rasa untuk selalu dekat dan tak ingin saling menjauh
Ibarat kata, kita komponen rasa yang sedang saling menyeimbangkan
Namun diantara kita tidak ada tumpuan
Aku sayang, tetapi kamu masih dalam belenggu kebimbangan
Memang sulit bagimu untuk memutuskan
Aku tahu ada hati yang kamu jaga
Tak menginginkan terluka
Sebab aku belum cukup membuatmu bahagia
Namun apa salahnya kamu jujur saja
Buat apa kamu terus memendam rasa
Dan yang kamu harus tahu, aku di sini menunggu jawab pasti darimu
Belumkah kamu percaya, perasaanku benar adanya
Bahwasannya aku benar-benar cinta
Lantas mengapa diabaikan saja?
Memang cinta tak harus memiliki
Tapi aku ingin kamu yang selalu menemani
Mengikrarkan janji tak saling menyakiti
Sayang sungguh sayang
Sampai saat ini dirimu masih belum menemukan jawaban yang pasti
Semisal sikapku berbeda, jangan pernah mengira kalau aku tak lagi cinta
Jangan pernah menyimpulkan, ada orang yang membuatku lupa
Ya, mungkin sabarku sudah melampaui batas
Hingga lelahku memaksa menyerah
Ada saatnya berhenti berharap
Tak lagi meninggikan kemungkinan
Tak mau lagi berandai-andai, lelah dengan keadaan
Aku selalu menanti semua itu
Kepada tuhan, aku selalu meratap
Jika bukan kamu yang digariskan, untuk segera disadarkan
Ada saatnya semua berubah jadi kenyataan
Segala keraguan terjawab kepastian
Kesedihan berubah kebahagiaan
Penantian berujung kebersamaan
Semoga demikian kemudian
Kepada tuhan aku selalu meminta
Jika kamu jodoh yang dituliskan, untuk segera disatukan