

inNalar.com – Jembatan Cipamotan adalah salah satu jembatan kereta api tertua di Jawa Barat setelah infrastrukutur kuno Cisomang yang lebih dulu dibangun pada 1906.
Konon katanya jembatan ini sangat ditakuti oleh masinis karena harus mempunyai syarat khusus untuk melewatinya
Jembatan ini dibangun setinggi 100 meter di permukaan tanah dan masih berdiri kokoh selama 111 tahun, tepatnya sejak dibangun Hindia Belanda pada 1913.
Baca Juga: Unggul Jauh, Pasangan Muzakir Manaf dan Fadhullah Berpotensi Menang Pilgub Aceh Versi Quick Count
Jembatan yang menghubungkan jalur kereta api Banjar-Cijulang ini dahulu ramai dilalui kereta api, karena jalur jembatan ini punya pemandangan menarik berupa rel kereta yang seolah-olah mengambang di atas awan.
Namun, jika ingin melewati jembatan ini dengan kereta api ada satu syarat khusus yang harus dipenuhi. apa syarat khusus itu?
Baca Juga: Cair Bulan Depan! Ini 6 Golongan Pensiunan PNS yang Dapat Tunjangan Suami Istri Lebih Dari Rp400.000
Dahulu pada zaman kolonial sebelum melewati Jembatan Cipamotan masinis selalu bertanya “Apakah ada orang Cijulang di Kereta ini?”
Pertanyaannya adalah kenapa masinis selalu menanyakan keberadaan orang Cijulang di Kereta yang akan melintasi Jembatan Cipamotan?
Konon, mitosnya apabila ada orang Cijulang di kereta maka perjalanan melewati Jembatan Cipamotan akan terasa lancar, dilansir dari Instagram Kereta Api Indonesia.
Baca Juga: Dibangun Belanda Pada 1913, Jembatan Kereta di Pangandaran Ini Terbengkalai Gegara Dipreteli Maling
Namun, apabila tidak ada orang Cijulang dalam perjalanan Kereta Api melewati Jembatan Cipamotan, maka perjalanan akan mengalami gangguan, entah itu akan terjadi kecelakaan ataupun gangguan lainnya
Kenapa terdapat mitos seperti itu sebelum melewati jembatan Cipamotan?
Hal ini karena, konon katanya dalam membangun jembatan ini tidaklah mulus karena banyak pekerja yang kehilangan nyawa pada proses pembangunannya.
Baca Juga: Cek Hasil Quick Count Sementara Pilkada Depok 2024 Menurut Indikator Politik Indonesia
Zaman dulu hal ini disebut “Pakeman” yaitu praktik tradisional yang melibatkan tumbal sebagai syarat keberhasilan sebuah proyek besar.
Oleh karena itulah jika orang dari daerah ini ada di dalam kereta, perjalanan dapat diteruskan tanpa ragu.
Sebaliknya, jika tidak ada penduduk asal dari daerah tersebut, maka perjalanan dihentikan karena dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mitos inilah yang menjadi salah satu daya tarik Jembatan Cipamotan pada zaman kolonial.
Sayangnya meski memiliki daya tarik mitos yang kuat Jembatan Cipamotan yang dahulu ramai harus berhenti beroperasi pada tahun 1982.
Beberapa alasan yang menyebabkan jembatan berhenti seperti jembatan sudah mulai tergerus zaman, semakin minimnya jumlah penumpang dan barang, biaya operasional yang tinggi, dan tingginya pertumbuhan angkutan pribadi.
Kini Jembatan Cipamotan sudah terbengkalai keberadaanya telah menjadi bagian dari warisan perkeretaapian Indonesia. ***(Jassinta Roid Triniti)