Ingatlah Yaumul Hisab! Ustadz Hilman Fauzi Jelaskan Pentingnya Muhasabah Diri Bagi Setiap Muslim

inNalar.com – Ustadz Hilman Fauzi memberikan nasihat bagi setiap muslim agar kita tidak lupa untuk melakukan muhasabah atau mengoreksi dirinya sendiri.

Ustadz Hilman Fauzi pun menjelaskan bahwa sifat muhasabah yang melekat pada diri seorang muslim menjadi salah satu bagian dari ciri orang beriman.

Lantas, apa yang dimaksud dengan muhasabah? Ustadz Hilman Fauzi menerangkan bahwa muhasabah berarti ketika seorang muslim mengevaluasi dirinya atau memperbaiki dirinya dengan tujuan supaya ia tumbuh menjadi pribadi yang semakin lebih baik.

Baca Juga: Bolehkah Mengajak Taaruf Seseorang Lewat Media Sosial? Ustadz Hilman Fauzi Beri Jawaban Tak Terduga

Berdasarkan penjelasan Ustadz Hilman Fauzi, muslim yang beriman itu adalah orang yang tidak suka menyibukkan dirinya dengan memperhatikan kesalahan dan aib orang lain. 

Justru sebaliknya, menurut Ustadz Hilman Fauzi, seorang muslim yang beriman akan cenderung selalu berusaha mengisi hari-harinya dengan muhasabah terhadap dirinya sendiri.

Kemudian Ustadz Hilman Fauzi mengajak kita untuk berpikir bersama terkait mengapa ada orang-orang yang senang bergosip, sibuk mencari aib dan kesalahan orang lain daripada sibuk memuhasabah dirinya.

Baca Juga: Istilah ‘Cinta’ Gak Boleh Diartikan Sembarangan, Ustadz Hilman Fauzi Bongkar Makna Sesungguhnya

Jawabannya ialah karena orang-orang semacam itu hanya fokus melihat kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan yang ada pada dirinya sendiri.

Dengan adanya fenomena tersebut, Ustadz Hilman Fauzi mengingatkan kita semua sebagai muslim yang beriman agar kita senantiasa melakukan muhasabah atau mengevaluasi diri kita masing-masing.

Pasalnya, tatkala kita dihargai dan dihormati oleh orang lain, sebenarnya yang demikian itu bisa kita raih hanya karena Allah menutupi aib dan kesalahan kita di hadapan sesamanya.

Baca Juga: Ustadz Hilman Fauzi: Sesungguhnya Hatimu Tersakiti Akibat Harapanmu Sendiri

Oleh karena itu, Ustadz Hilman Fauzi mengingatkan kita agar jangan sekali-kali menyombongkan diri dan menyibukkan diri dalam hal-hal yang bukan menjadi urusan kita.

Ustadz Hilman Fauzi pun memberikan contohnya seperti menggosip, mengomentari tindakan orang lain, dan menghina orang lain atas kesalahan atau dosa yang mereka lakukan.

Ustadz Hilman Fauzi juga mengingatkan kita bahwa melakukan muhasabah diri jauh lebih baik daripada sibuk dengan urusan orang lain.

Baca Juga: Muslim Wajib Tahu! Buya Yahya Beri Tanggapan Menohok Soal Pengbatan Ibu Ida Dayak

Sikap muhasabah dibahas dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS Al-Hasyr ayat 18.

Pada ayat tersebut, sangat jelas sekali bagi kita bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bermuhasabah.

Artinya, kita selalu berusaha menghitung-hitung, mengingat-ingat, merenung, dan mengevaluasi diri atas apa yang kita perbuat di masa lampau dan hari ini.

Baca Juga: Gus Baha, Murid Mbah Moen Ungkap Cara Jadi Muslim yang Selalu Bahagia Meski Banyak Masalah dalam Hidup

Selanjutnya, kita diperintahkan pula untuk bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang kita kerjakan selama di dunia.

Bagaimanapun, pada hakikatnya kita semua akan dikumpulkan di yaumul hisab. Hari dimana kita tidak mampu lagi membuat pembelaan apapun atas apa yang telah kita perbuat selama di dunia.

Pada hari tersebut, mulut kita akan dikunci dan kita akan sampai pada hari dimana kita hanya bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita.

Baca Juga: Sudah Taat Beribadah Tapi Kok Masih Hidup Susah, Begini Penjelasan Logis dari Gus Baha

“Allah lebih mencintai orang yang banyak dosa, kemudian dia bertaubat kepada Allah daripada orang yang merasa dirinya saleh dan dia merasa tidak punya salah dalam kehidupan,” kata Ustadz Hilman Fauzi.

Oleh karena itu, marilah kita perbanyak muhasabah diri dan kurangilah untuk melihat aib dan kesalahan orang lain, karena kita tidak mengetahui bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala akan mengakhiri amalan kita ketika ajal tiba, apakah kita akan husnul khatimah atau kah sebaliknya? Allahu A’lamu.***

Rekomendasi