Banyak yang Pilih Golput, Partisipasi Pemilih Pilkada Jakarta 2024 Cuma 58 Persen, Ternyata Ini Alasannya

inNalar.com – Beberapa hari yang lalu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024 telah berakhir dan rupanya terdeteksi masih banyak yang lebih pilih golput.

Selain hasil perhitungan cepat paslon Pilkada Jakarta yang menjadi sorotan, rupanya jumlah pemilih yang berpartisipasi juga tampak hanya 58 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya, jauh di bawah ekspektasi.

Angka ini jelas menurun dibandingkan dengan tingkat partisipasi pemilihan sebelumnya dan sangat jauh dari target yang diharapkan.

Baca Juga: Pejuang CPNS dan PPPK Dosen, 8 Pertanyaan Ini Sering Ditanyakan Tim Penilai saat Tes Microteaching

Fakta ini menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama karena mayoritas yang pilih untuk abstain adalah generasi muda.

Rendahnya partisipasi ini mencerminkan tantangan besar bagi rakyat dalam membangun kesadaran politik.

Apakah Anda salah satu dari mereka yang golput dan memilih untuk tidak menggunakan hak pilih?

Baca Juga: Belah Laut! Jembatan di Pulau Terluar Riau Sepanjang 7,8 km akan Satukan Bengkalis dengan Daratan Sumatera

Jika ya, mungkin alasan-alasan berikut ini yang menyebabkan Anda enggan menggunakan hak suara.

1. Apatisme dan Kurangnya Kesadaran Politik
Salah satu alasan utama banyaknya pemilih golput adalah kurangnya kesadaran politik.

Diantara Anda mngkin percaya bahwa suara yang diberikan tidak akan membawa perubahan. Hal ini dijelaskan melalui data yang menunjukkan meningkatnya pemilih, terutama anak muda yang golput.

Baca Juga: Guru Swasta Juga Bisa Ikut Seleksi PPG dan Dapat Sertifikat Pendidik, Ini Syarat yang Wajib Dipersiapkan

Fenomena seperti, menunjukan kurangnya kepedulian dari generasi muda untuk terjun dalam kancah politik Indonesia.

Selain itu, hal ini bisa disebabkan oleh kinerja pemerintah yang mengecewakan sejak Pilkada sebelumnya.

2. Merasa Tidak Cukup Waktu untuk Mengenal Paslon
Alasan kedua mengapa banyak anak muda memilih golput di Pilkada Jakarta kali ini ialah karena mereka merasa tidak yakin akan program kerja yang diumumkan oleh pasangan calon.

Baca Juga: Jangan Khawatir! Tenaga Honorer Kategori Ini Dipastikan Lolos PPPK Kemenag 2024

Menurut pemaparan dari Aried Rosyid Hidayat, anggota Dewan Pembina Relawan Kerja Ecosystem, anak muda cenderung butuh lebih banyak waktu untuk memahami visi, misi, serta program kerja dari tiap pasangan calon.

Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya upaya pasangan calon dalam menjangkau dan mensosialisasi anak muda.

3. Sosialisasi KPU Tidak Optimal
Peran KPU Jakarta dalam meningkatkan partisipasi pemilih dianggap tidak optimal pada Pilkada tahun ini.

Hal ini dibuktikan dengan penurunan pastisipasi jumlah pemilih yang signifikan dari Pilkada sebelumnya.

Anda mungkin setuju, bahwa dalam upaya sosialisasinya, KPU tidak bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang terlibat dalam Pilkada ini, terkhususnya para anak muda

Perangkat KPU DKI menyadari adanya kekurangan dalam strategi sosialisasi yang dilakukan.

Oleh karena hal ini, nantinya akan dilakukan evaluasi untuk mengetahui kesalahan dan kegagalan apa saja yang terjadi serta bagaimana cara memperbaikinya.

Targetnya, dalam Pilkada selanjutnya, partisipasi pemilih bisa meningkat dan jumlah golput bisa berkurang.

Partisipasi pemilih yang tidak optimal dalam pelaksanaan Pilkada Jakarta 2024 menjadi hal yang perlu kita soroti dan perbaiki.

Sebagai bagian dari masyarakat, peran Anda sangat penting dalam menentukan arah masa depan daerah ini.

Maka dari itu, mari gunakan hak suara dengan baik demi kemajuan bangsa Indonesia!***(Valencia Amadhea Christiyadi) 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]