

inNalar.com – Pada tanggal 9 Mei 1993 atau tepatnya 30 Tahun yang lalu, Marsinah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Marsinah dinyatakan meninggal dunia pada 8 Mei 1993 berdasarkan hasil otopsi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Marsinah sempat dinyatakan menghilang pada tanggal 5 Mei 1993 dan pada tanggal 9 Mei 1993 jenazah akhirnya ditemukan.
Baca Juga: Parah! Kamar Atlet Indonesia Bocor saat Menginap di Perkampungan Atlet SEA Games 2023 Kamboja
Jenazah Marsinah ditemukan di sebuah gubuk pematang sawah Desa Jagong, Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 200 km dari tempatnya bekerja.
Hasil otopsi dari RSUD Dr. Soetomo menunjukkan bahwa Marsinah mendapatkan penganiyaan berat sebelum ia dibunuh.
Kemudian hasil visum RSUD Dr. Soetomo Surabaya, mendapati bahwa tulang panggul bagian depan Marsinah hancur.
Selain itu, tulang kemaluan kiri hancur dan tulang kemaluan kanan patah.
Sementara itu, didapati tulang usus kanan patah sampai terpisah.
Tulang bagian selangkanngan kanan patah seluruhnya, labia minora kiri sobek, dan ada luka di bagian dalam kemaluan 3 cm serta mengalami pendarahan di rongga perut.
Seperti yang kita ketahui, Marsinah merupakan seorang aktivis buruh yang dibunuh dengan keji pada masa Orde Baru.
Marsinah merupakan buruh di PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Marsinah sangat vokal dan lantang dalam menyuarakan hak-hak kaum buruh, namun vokalnya yang lantang terpaksa berhenti setelah ia diculik, disiksa, diperkosa bahkan dibunuh pada 8 Mei 1993.
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.
Baca Juga: Jadwal Sholat Wilayah DKI Jakarta, Selasa 9 Mei 2023 M, Beserta Penjelasan Ibadah Sunnah Rawatib
Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudar yang semuanya perempuan, kakaknya bernama Marsini dan adiknya bernama Wijati.
Ayah Marsinah bernama Astin dan Ibunya bernama Sumini, sebuah keluarga yang tinggal di desa Ngundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Saat Marsinah berumur tiga tahun, sang ibu meninggal dunia dan pasca meninggalnya ibu Marsinah, ayahnya menikah lagi.
Baca Juga: Malaysia Bakal Larang Karyawan Panggil ‘Sayang’ ke Rekan Kerja Lain, Hukumannya Pecat!
Setelahnya Marsinah diasuh neneknya yang bernama Paerah dan tinggal bersama paman dan bibinya.
Marsinah kecil sudah terbiasa bekerja keras, bahkan sepulang ia dari sekolah pun membantu neneknya menjual gabah dan jagung.
Bahkan sejak SD pun Marsinah dikenalkan sebagai murid yang pintar, suka membaca dan kritis.
Baca Juga: Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Berkilah Jalanan Rusak di Daerahnya Akibat Kendaraan Tonase Berat
Setelah lulus SD, Marsinah melanjutkan pendidikan SMP nya di SMP Negeri 5 Nganjuk.
Kemudian setelah tamat SMP, Marsinah melanjutkan pendidikan lanjutan di SMA Muhammadiyah dengan bantuan biaya dari pamannya.
Memiliki cita-cita ingin melanjutkan pendidikan tinggi dan berkuliah di fakultas hukum, namun akibat terkendala biaya akhirnya mimpi Marsinah untuk melanjutkan pendidikan pun sirna.
Baca Juga: dr Aisah Dahlan Bagikan Seni Menegur Anak Perempuan yang Sedang Pra-Menstruasi dan Haid
Pada tahun 1989, Marsinah pun memilih merantau ke Surabaya dan menumpang hidup di rumah kakaknya.
berkeluarga. Marsinah pun bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, tetapi gajinya jauh dari cukup sehingga ia harus mencari tambahan penghasilan dengan berjualan nasi bungkus.
Marsinah juga sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan barang sebelum akhirnya hijrah ke Sidoarjo dan bekerja di PT CPS pada 1990.
Baca Juga: Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah Dikaruniai Anak Kedua: Ameena Punya Ade
Marsinah adalah aktivis dalam organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.
Itulah biografi singkat dari sang aktivis buruh Marsinah yang ditemukan meninggal pada 9 Mei 1993.***(Galih Nur Wicaksono)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi