

inNalar.com – Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan merupakan salah satu kebutuhan terpenting yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Oleh karena itu, manusia akan melakukan segala hal untuk dapat mendapatkan makanan untuk tetap menyambung kehidupan.
Berkenaan dengan itu, sebagai makhluk sosial, manusia tidak hanya mencari sumber makanan untuk dirinya saja. Mereka juga memperhatikan kebutuhan orang lain agar interaksi dan kelangsungan tata kelola alam semesta berjalan pada semestinya.
Seorang ayah yang bekerja akan memberikan gajinya kepada anak dan istrinya salah akomodasi kebutuhan primer. Hal ini lantaran ikatan emosional akibat kedekatan antar anggota keluarga.
Demikian, seorang tetangga yang juga memiliki ikatan batin dengan yang lain akan saling memberikan hadiah agar kerukunan antar warga tetap terjalin utuh.
Untaian tangan tersebut akan lebih diperhatikan untuk golongan yang membutuhkan atau pada momen-momen tertentu seperti hari-hari besar mulai dari hari raya keagamaan hingga hari pernikahan.
Memang, idealnya mereka yang memiliki kemampuan finansial yang lebih memberikan hadiah kepada golongan yang lebih membutuhkan.
Baca Juga: Ustadz Abdul Somad Sebut Tiga Golongan Ini Boleh Dihukum Sadis di Dunia, Apakah Kamu Termasuk?
Akan tetapi sebaliknya, bagaimana etika dan hukum orang yang sangat sederhana menjamu kepada mereka yang dianggap lebih dari mampu?
Kita simak pendapat ustadz Abdul Somad dibawah ini:
Beliau bersandar pada dalil bahwa nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam pernah dijamu oleh sahabat dengan :
“Nabi dijemput hadir di rumah sahabat dimasakkan khuzairah, daging yang dipotong kecil, yang dimasak pakai tepung gandum.” Ungkap beliau.
Baca Juga: Ini Nasehat Ustadz Abdul Somad Untuk Wanita Karir Yang Suaminya Serabutan! Renungkanlah!
“Selepas makan bersama sahabat, nabi bertanya mana sudut rumahmu yang aku akan salat bisa mendoakan engkau. Bekas tempat sujud nabi di dalam rumah itu dijadikan mushola Al Bait” Lanjut beliau.
Kutipan dalil diatas menyiratkan bahwa memberikan makanan kepada orang kaya yang kenyang pun juga bernilai shodaqoh walaupun kita dianggap kurang secara finansial daripadanya.
Hal ini dikarenakan sahabat memberikan makan kepada nabi yang bukan termasuk faqir miskin.
“Karena nabi bukan fakir miskin” Ucap ustadz Abdul Somad menegaskan.
Maka bersedekah tak hanya diperuntukkan kepada orang miskin dan susah saja akan tetapi juga dibolehkan kepada sahabat-sahabat kita yang terlihat sudah lebih dari cukup.
Setelah itu, ustadz Abdul Somad mengutip wasiat pertama nabi Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam ketika beliau sampai di kota Madinah untuk menguatkan pendapat ini:
ا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.
“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan kerjakanlah shalat pada waktu malam ketika manusia sedang tidur. Niscaya, kalian akan dimasukkan ke dalam surga dengan keselamatan.”
[ Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Mâjah, dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 569.]
Narasi beliau diatas menandakan bahwa bersedekah boleh dilakukan oleh siapa saja dan untuk siapa saja selama untuk kebaikan tanpa melihat status sosial. Karena saling berbagi akan menimbulkan kasih sayang dan kuatnya ikatan persaudaraan diantara umat Islam.***(Dadang Irsyam)
Source:https://www.youtube.com/watch?v=evDdDCz0SHg&ab_channel=TanyaUstadzAbdulSomad
Tag: Ustadz Abdul Somad, Sedekah, kaya, menjamu