

inNalar.com – Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai 1996. Karakteristik kaum millennial adalah melek teknologi, mengejar passion dalam hidup, dan merajai berbagai industri.
Kini umumnya kaum millennial sudah memasuki dunia kerja, dan oleh karena itu mereka memerlukan perencanaan keuangan yang matang.
Padahal jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki penghasilan yang cukup mencengangkan. Jumlah penghasilan yang diraih generasi milenial mungkin sudah sangat memadai, jika ditakar dengan pertimbangan orang dari generasi sebelumnya.
Baca Juga: Link Rekrutmen Bersama BUMN 2023 Sulit Diakses? Ini Tips Jitu yang Bisa Dilakukan Pendaftar
Namun meski memiliki penghasilan yang ‘lumayan’, tak jarang mereka mengeluhkan upahnya habis duluan sebelum masa gaji berikutnya tiba.
Entah itu boros, mubadzir, alokasi dana yang kurang tepat, atau apapun itu yang berkenaan dengan kebocoran dana keuangan.
Lantas pertanyaannya, ke mana para milenial menghabiskan uangnya?
Baca Juga: Prof Dr Sulianti Saroso Jadi Tema Google Doodle Hari Ini, Berikut Kisah di Baliknya
Sebuah survei menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat generasi muda ingin memiliki pakaian, mobil, dan peralatan teknologi yang sedang tren.
Sosial ekonomi dan gaya hidup memiliki peran besar dalam menunjukkan eksistensi mereka sehari-hari.
Hal tersebut dikarenakan, milenial belum memiliki literasi keuangan yang cukup baik. Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan, generasi ini merupakan kelompok yang rentan finansial. Sebab milenial sangat rentan ‘terpapar’ oleh media sosial sehingga ada ketakutan untuk tertinggal oleh tren-tren baru.
Baca Juga: Ustadz Abdul Somad Sebut Tiga Golongan Ini Boleh Dihukum Sadis di Dunia, Apakah Kamu Termasuk?
Tak heran bila pendapatan mereka cukup besar namun banyak mengeluh sebab mereka menabung dilakukan bukan untuk membeli aset, tetapi preferensinya adalah memenuhi gaya hidup, seperti nongkrong, ngopi, shopping, dan liburan fancy.
Pernyataan tersebut didukung oleh data OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
Dalam data itu disebutkan bahwa setiap bulannya sekitar 51,1 persen pendapatan milenial dihabiskan oleh kebutuhan bulanan, dan hanya sekitar 10,7 persen yang ditabung. Kemudian hanya sekitar 35,1 persen milenial yang telah memiliki rumah sendiri.
Baca Juga: Ini Nasehat Ustadz Abdul Somad Untuk Wanita Karir Yang Suaminya Serabutan! Renungkanlah!
Akibatnya, 1 dari 3 milenial termasuk financially insecure, 28 persen keluarga hanya sanggup bertahan seminggu apabila kehilangan pendapatan utama, dan 32 persen keluarga hanya sanggup bertahan sebulan jika kehilangan pendapatan utama.
Meski tergolong dalam kategori rentan secara finansial. Ada cara yang bisa ditempuh para milenial agar bisa memiliki keuangan yang ‘matang’. Salah satunya membuat perencanaan keuangan (financial planner).
Memiliki tujuan dan rencana keuangan yang jelas akan membuat lebih mudah dalam menentukan rencana finansial seperti yang ingin dilakukan. Sehingga porposi keuangan dapat tepat sesuai porsinya.
Taman-teman dapat membagi porposi keuangan dengan metode 50:30:20 dari pemasukan yang dimiliki setiap bulannya.
50 persen untuk biaya hidup sehari-hari dalam satu bulan, 30 persen untuk tabungan, investasi dan kebutuhan finansial lainnya, dan 20 persen untuk kebutuhan konsumtif.
Jika demikian, maka masa depan mereka akan bisa diproyeksikan dan bisa lebih dikendalikan meskipun masih banyak probibalitas yang lain.***(Dadang Irsyamuddin)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi