

inNalar.com – Mengajar merupakan salah satu profesi yang paling mulia dan penting di dunia. Namun, mengajar juga bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Mengajar membutuhkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang tepat agar dapat memberikan dampak positif bagi siswa sebagai audience.
Sayangnya, banyak guru yang masih mengajar dengan cara yang kurang efektif dan tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa sebagai pendengar.
Mereka melakukan presentasi dengan cara yang monoton, membosankan, dan tidak menarik. Mereka mengajar dengan cara yang otoriter, rigid, dan tidak fleksibel. Dengan hal ini, seakan-akan meraka tidak menghargai dan tidak memahami siswa.
Baca Juga: Jangan Harap Masalah Jadi Ringan Usai Taubat! Ustadz Abdul Somad Ingatkan Hal Penting Ini
Akibatnya, banyak siswa yang merasa tidak tertarik, tidak termotivasi, dan tidak terlibat dalam proses pembelajaran.
Selain itu, mereka juga merasa tidak dihargai, tidak dipercaya, dan tidak diakui sebagai individu yang unik dan berpotensi lantaran menganggap mendapatkan manfaat dan makna dari apa yang mereka pelajari.
Bagaimana cara mengubah hal ini? Bagaimana cara mengajar untuk siswa, bukan pada siswa? Bagaimana cara mengajar dengan cara yang efektif, menarik, dan bermakna bagi siswa?
Brian Johnson, seorang mantan guru yang kini menjadi konsultan pendidikan, memiliki tiga area fokus yang dapat membantu para guru dalam hal ini. Ketiga area fokus tersebut adalah:
1. Mengafirmasi siswa.
Guru perlu memberikan pengakuan positif kepada siswa atas keberadaan, identitas, dan kemampuan mereka. Ini juga berarti memberikan dukungan emosional dan sosial kepada siswa agar mereka merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam belajar.
2. Membudayakan siswa.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri mereka sangat diperlukan melalui berbagai media dan aktivitas. Hal ini dilakukan dengan memberikan ruang bagi siswa untuk berkolaborasi dan berinteraksi dengan sesama siswa dan guru dalam suasana yang demokratis dan inklusif.
3. Memfasilitasi siswa.
Hal ini berarti memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran mereka. Memberikan umpan balik dan evaluasi yang cukup kepada siswa dalam bentuk yang konstruktif dan formatif akan sangat membantu.
Baca Juga: Punya Hutang Sholat Wajib yang Disengaja? Begini Tata Cara Qadha Sholat Menurut Ustadz Abdul Somad
Dengan menerapkan ketiga area fokus ini dalam mengajar, para guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mereka.
Mereka dapat membuat pembelajaran menjadi lebih relevan, bervariasi, dan menyenangkan bagi siswa. Mereka dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, berdampak, dan berkelanjutan bagi siswa.
Hal ini berarti kita harus merubah orientasi kita dari mengajar kita dari hanya melakukan proses tersebut di depan murid menjadi mengajar untuk mereka. Tentu hal ini akan membuat mereka menjadi objek dan akan berkesan lebih humanis.
Baca Juga: Teknologi AI Menghancurkan Dunia Pendidikan? Ini Kata Pakar Inovasi Pendidikan
Mengajar dengan berorientasi pada siswa bukanlah hal yang mustahil atau sulit dilakukan. Para guru hanya perlu memiliki niat yang baik, komitmen yang kuat, dan usaha yang konsisten.
Para guru juga perlu terus belajar dan berkembang agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan siswa.
Dalam hal ini salah siswa sebagai mitra belajar kita akan merasa lebih dihargai dan dihormati. Melakukan presentasi yang berorientasi untuk siswa adalah salah satu cara untuk memberdayakan dan menginspirasi siswa sebagai agen perubahan di masa depan.
Baca Juga: Tidak Seperti Virgoun, Ini Jurus Jitu Dari Duta Sheila on 7 Jalin Pernikahan Langgeng Bebas Gosip
Pada akhirnya, jika kita konsisten dengan pendekatan ini, budaya tersebut akan menciptakan generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.***(Dadang Irsyamuddin)