Kronologi Runtuhnya Rezim Presiden Bashar Al Assad, Benarkah Pertanda Titik Balik Konflik Suriah?

 
inNalar.com – Per tanggal Desember 24, Suriah kini sedang mengalami titik yang signifikan dengan runtuhnya rezim Presiden Bashar al Assad.

Sebagaimana diketahui setelah lebih dari satu dekade konflik berkepanjangan yang telah mengakibatkan penderitaan luar biasa.

Sehingga berita ini disambut dengan suka cita oleh banyak warga Suriah. 

Baca Juga: Komitmen BRI Dukung Pemberdayaan UMKM, Distribusi KUR Sentuh Rp175,55 Triliun per November 2024

Mereka merayakan kebebasan dari penindasan rezim Bashar al Assad yang telah lama mereka alami selama ini. 

Lantas, bagaimana kronologi sesungguhnya keruntuhan dari rezim ini?

Runtuhnya rezim ini dimulai dari perebutan kota Damaskus oleh kelompok pemberontak, yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Baca Juga: Kenaikan UMK 6,5 Persen Untuk Kawasan Jakarta Bawa Angin Segar Bagi Para Pekerja, Intip Nominalnya

Dengan serangan dengan skala besar-besaran yang dimulai pada akhir November 2024, berlangsung dengan cepat dan terkoordinasi.

Sehingga dalam waktu singkat, para pemberontak berhasil merebut kendali atas Damaskus, ibu kota Suriah.

Yang setelah diperiksa lebih lanjut ternyata keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai kelompok oposisi dan strategi militer yang cermat.

Baca Juga: UMR Bekasi-Karawang 2025 Saingi Jakarta, Cek Prediksi Upah Minimum di Jawa Barat dengan Rate Gaji Rp5 Jutaan

Setelah kekalahan di kota Damaskus tersebut, Presiden Bashar al Assad dilaporkan telah melarikan diri dari Suriah.

Yang keberadaan pastinya masih menjadi sebuah misteri, namun banyak spekulasi yang mengatakan bahwa dia mungkin mencari perlindungan di Rusia.

Dan pelarian Bashar al Assad ini menandai berakhirnya era pemerintahan otoriter yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.

Baca Juga: Berapa UMR Kalbar 2025? Ini Dia Perhitungan UMK Terbaru Mempawah, Ketapang, dan Pontianak

Keruntuhan rezim ini memicu gelombang perayaan di seluruh penjuru wilayah Suriah.

Terutama di Damaskus dan kota-kota besar lainnya seperti Aleppo dan Homs, warga turun ke jalan dengan bendera nasional sembari menyerukan kebebasan.

Suasana penuh kegembiraan dan harapan terlihat jelas saat suara teriakan suka cita menggema di udara.

Karena warga yang sebelumnya hidup dalam ketakutan kini merasakan kebebasan yang telah lama diimpikan.

Bahkan dalam sebuah wawancara seorang warga mengungkapkan bahwa mereka merasa seakan-akan terlahir kembali, karena akhirnya bisa melihat harapan mereka secara nyata.

Baca Juga: Rekomendasi Sepatu Lokal Paling Terkenal di Promo 12.12

Keruntuhan rezim Presiden Bashar al-Assad ini juga disebabkan oleh beberapa faktor lain yang menjadi latar belakang pemberontakan.

Salah satu faktor utamanya adalah melemahnya dukungan internasional.

Di mana Rusia dan Iran, yang sebelumnya merupakan sekutu kuat Assad, mulai menarik dukungan mereka seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri.

Baca Juga: Jelang Libur Nataru, Begini Cara Mudah Top-Up Saldo BRIZZI

Selain itu, kondisi sosial dan ekonomi di Suriah semakin memburuk selama bertahun-tahun perang saudara.

Dengan lebih dari 500.000 jiwa melayang dan jutaan lainnya mengungsi, yang membuat rakyat Suriah mengalami penderitaan luar biasa.

Banyak pihak yang berpendapat jatuhnya rezim Assad dapat dianggap sebagai peristiwa penting dalam konteks geopolitik Timur Tengah.

Baca Juga: BRI Raih 7 Penghargaan di Ajang Top 100 CEO & The Future Leaders 2024

Yang tentu saja membuat banyak pemimpin dunia mengamati situasi ini dengan cermat.

Sebagai contoh adalah Joe Biden yang menegaskan bahwa negara tersebut akan terus memantau perkembangan di Suriah.

Tak hanya itu, dia juga secara terang-terangan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mendukung proses transisi menuju pemerintahan yang lebih demokratis.***

 

Rekomendasi