

inNalar.com Semakin terbukanya pemikiran masyarakat, semakin aneh dunia ini berkiblat.
Beberapa tahun belakangan ini, marak sekali kemunculan komunitas LGBTQ+ di mana-mana yang meminta kebebasan hak mereka sebagai manusia.
Komunitas LGBTQ+ adalah komunitas yang mendorong gerakan asasi manusia terhadap pasangan yang memiliki ketertarikan sesama jenis.
Di Indonesia sendiri, komunitas ini dilarang karena melanggar ideologi Indonesia, terutama terkait masalah hak untuk membuat keturunan dan keluarga.
Namun, masih banyak sekali komunitas di luar sana yang ingin mengajak orang-orang untuk mengakui dan menghormati pasangan sesama jenis.
Komunitas LGBTQ+ akan melakukan aksi untuk kampanye mengenai hak kebebasan mereka, tidak terkecuali melalui media sosial.
Baca Juga: Desa Ini Sudah Pasti Setiap Sore Turun Hujan, Fenomena Apa?
Aksi ini pun juga dilakukan oleh salah satu akun Twitter dengan nama Pride Token.
Dalam cuitannya 4 Juni 2023 lalu, akun ini sepertinya ingin agar masyarakat tidak ‘homopobhia’ atau fobia terhadap pasangan sesama jenis, dengan membawa-bawa nama Nabi Muhammad.
Dalam utasannya, akun ini mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk saling menghargai dan menyayangi antar sesama, tak terkecuali kepada komunitas LGBTQ+.
Baca Juga: Sidang Mediasi Virgoun dan Inara Rusli, Keduanya Terlihat Tenang Bahkan Cium Tangan Sang Suami
Hal ini dilakukan dalam rangka memperingati Bulan Pride yang bertepatan pada Bulan Juni, di mana dalam bulan ini komunitas LGBT berkumpul untuk merayakan kebebasan mereka menjadi diri sendiri.
Tentu saja, hal ini dikecam oleh seluruh umat muslim di dunia.
Pasalnya, dalam Islam sendiri hubungan sesama jenis sangatlah dilarang, mengingat kisah kaum Nabi Luth yang diadzab karena kemaksiatannya tersebut.
Terlebih lagi, banyak sekali negara Islam yang melarang hubungan sesama jenis.
Tidak hanya itu, akun ini juga menghubungkan aksi anti-homopobhia dengan agama Kristen, di mana dia mengatakan bahwa Jesus mengajarkan untuk saling mengasihi terhadap sesama.
Warganet merespons cuitan tersebut dengan kemarahan karena merasa agama mereka, Nabi, dan Tuhan mereka telah dihina.
Namun tidak ada tanda-tanda bahwa akun tersebut merasa bersalah ataupun berkeinginan untuk menghapus cuitan tersebut.***(Ajeng Marcelliani)