

inNalar.com – Manchester City musim 2022-2023 dan Barcelona musim 2008-2009 sama-sama mendapatkan gelar treble winner dibawah asuhan Pep Guardiola.
Pelatih Spanyol itu menerapkan strategi yang hampir sama bagi kedua tim yaitu penguasaan bola walaupun dengan pendekatan yang berbeda.
Ia berhasil menerapkan Tiki Taka dengan umpan-umpan pendek mematikan di Barcelona berkat adanya kualitas individu pemain yang mumpuni.
Baca Juga: Sidang Lanjutan Perceraian Desta Dan Natasya Rizki Datangkan 2 Saksi Kunci, Ini Sosoknya
Barcelona pada saat itu memiliki beberapa pemain terbaik di dunia di setiap posisi sehingga membuat permainannya begitu mengalir.
Bahkan enam pemain Blaugrana masuk dalam daftar tiga besar Ballon d’Or pada tahun 2009 yaitu: Messi, Xavi, Iniesta, Samuel Eto’o, Thierry Henry dan Yaya Toure.
Tim Spanyol itu juga memiliki keunggulan dalam hal keterikatan pemain dan juga identitas tim.
Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon Hari Donor Darah Sedunia 14 Juni 2023, Dilengkapi Tema Peringatannya dari WHO
Sebagian besar pemainnya berasal dari akademi La Masia atau memiliki pengalaman bermain di Spanyol.
Mereka tahu cara bermain bersama dan menghormati filosofi klub yang ditanam sejak lama.
Selain itu, punggawa Barcelona juga memiliki motivasi ekstra untuk memenangkan treble sebagai penghormatan bagi mantan pelatih mereka, Tito Vilanova, yang meninggal karena kanker pada tahun 2014.
Baca Juga: Begini Cara Membuat Skincare Pemutih Kulit Berbahan Dasar Madu, Simak Tahapannya di Sini
Lain daripada itu, di Manchester City, Pep Guardiola mengadopsi filsafat permainan ala Barcelona dengan penguasaan bola dengan sedikit penyesuaian.
Manchester City memang tidak memiliki bintang sebesar Messi atau Xavi, tetapi mereka memiliki kedalaman skuad yang luar biasa.
Tim ini memiliki setidaknya dua pemain berkualitas di setiap posisi, yang memungkinkan Guardiola untuk melakukan rotasi dan menyesuaikan diri dengan lawan-lawannya.
Baca Juga: Lebih Baik Mana Berkurban Kambing Atau Sapi Saat Idul Adha 2023, Begini Kata Ustadz Khalid Basalamah
Mereka juga memiliki keunggulan dalam hal mentalitas dan profesionalisme.
Sebagian besar pemainnya telah bermain bersama selama beberapa tahun atau dibawa oleh Guardiola sendiri.
Pemain-pemain tersebut tahu apa yang diharapkan dari pelatih mereka dan bagaimana menerapkan instruksinya.
Ditambah dengan konektivitas De Bruyne sebagai playmaker dan Haaland sebagai penyerang ideal, membuat tim ini hampir tidak memiliki celah.
Mereka juga memiliki motivasi ekstra untuk memenangkan treble sebagai balas dendam atas kegagalan mereka di final Liga Champions serta meraih trofi untuk pertama kalinya dalam sejarah.***(Dadang)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi