Kapan Peringatan HUT DKI Jakarta ke-496? Inilah Alasan di Balik Penetapan Tanggal Hari Jadi Kota Jakarta


inNalar.com – Hari Ulang Tahun atau HUT DKI Jakarta 496 tahun ini akan diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 22 Juni 2023.

Penetapan tanggal HUT DKI Jakarta 496 ini diambil dari momen bersejarah ketika Pangeran Fatahillah berhasil merebut pelabuhan Sunda Kalapa yang kala itu menjadi pusat perdagangan Portugis, yakni pada tahun 1527.

Namun, tahukah bahwa ada alasan khusus di balik mengapa momen tersebut yang akhirnya dipilih menjadi hari peringatan HUT DKI Jakarta 496.

Baca Juga: Khutbah Idul Adha 2023: Mengungkap 3 Sisi Pesan Mengharukan dari Keteladanan Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Heru Erwantoro, dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Hari Jadi Kota Jakarta” menjelaskan bahwa dalam tradisi penulisan sejarah untuk menentukan hari jadi suatu kota terdapat empat pola yang perlu diperhatikan.

Keempat pola tersebut di antaranya adalah remembered history, invented history (prefabricated history), recovered history, dan history base agreement.

Penentuan tanggal hari jadi sebuah kota dengan pola remembered history ini didasarkan oleh adanya suatu peristiwa menggetarkan atau ada tempat bersejarah yang menjadi awal cikal bakal terbentuknya kota tersebut.

Baca Juga: Begini Cara Cepat Menghilangkan Bulu Ketiak Secara Permanen Dengan Mudah: DIY Deodoran Alami

Misalnya, pendirian keraton atau benteng, atau hal lainnya yang kemudian dicatat dalam dokumen sejarah sebagai titik balik suatu masyarakat di kota tersebut.

Sehingga tujuan di balik penetapan tanggal hari jadi sebuah kota adalah untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut dan menunjukkan kebanggaan terhadap kota tersebut.

Berbeda halnya dengan penetapan tanggal hari jadi yang didasarkan pada pola invented history (prefabricated history).

Penetapan tanggal hari jadi kota dengan pola kedua ini lebih mengutamakan makna historis daripada kepastian sejarah yang akurat.

Artinya, momen yang ingin diangkat adalah nila-nilai yang ingin dihubungkan dengan perayaan hari ulang tahun kota tersebut.

Sehingga bisa dikatakan, penentuan tanggal hari jadi dengan pola kedua cenderung lebih fleksibel, karena yang penting adalah makna bersejarah di balik peristiwanya.

Contohnya, ketika tidak ada peristiwa sejarah yang cocok untuk dijadikan hari jadi suatu kota, maka langkah yang diambil adalah dengan menggabungkan tahun terjadinya peristiwa tertentu.

Kemudian, tanggal dan bulan peringatan bisa diambil dari hari lahir seorang tokoh atau pemimpin yang berperan besar dalam pengembangan kota tersebut.

Sehingga tujuan dari perayaan hari jadi suatu kota lebih menekankan pada nilai yang perlu dihargai oleh masyarakatnya dan mendorong penguatan identitas, serta membangun kebanggaan terhadap kota tersebut.

Pola ketiga dalam penetapan hari jadi suatu kota adalah recovered history. Penggunaan pola ini banyak dijumpai di beberapa kota yang ada di wilayah Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatera.

Penetapan tanggal hari jadi kota dengan pola ketiga ini ialah didasari dengan adanya penemuan warisan prasasti yang memiliki informasi mengenai angka dan tahun spesifik.

Sehingga tidak heran apabila kita jumpai beberapa usia kota di pulau Jawa telah mencapai ratusan tahun.

Pola keempat disebut dengan history base agreement. Maksudnya, tanggal hari jadi suatu kota diambil dari suatu peristiwa yang ada di daerah tersebut.

Dalam konteks HUT DKI Jakarta 496 yang jatuh pada tanggal 22 Juni ini, dipilih sebagai hari jadi, yaitu karena tanggal tersebut menandai peristiwa kemenangan Pangeran Fatahillah pada tahun 1527.

Peristiwa kemenangan Pangeran Fatahillah atas pelabuhan Sunda Kalapa kala itu menjadi simbol kebanggaan yang tersimpan di dalam sejarah ibukota Jakarta.

Pada peringatan HUT DKI Jakarta 496 ini, pemerintah mengajak seluruh warga Jakarta beserta rakyat Indonesia untuk merayakan dan membanggakan sejarah, serta prestasi kota ini.

Sehingga dengan gelaran hari peringatan bersejarah ini, seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat memperkokoh rasa persatuan, menghargai kekayaan budaya, dan mempromosikan potensi yang dimiliki oleh kota ini.***

Rekomendasi