

inNalar.com – Profil Panji Gumilang tengah banyak dicari karena kasus pesantren yang didirikannya.
Akhir-akhir ini media berita sedang ramai membicarakan tentang Al Zaytun. Bagaimana tidak, ajaran mereka yang nampak berbeda dengan agama islam lainnya, bahkan nampak sangat berbeda sekali.
Pendiri dari pondok pesantren itu, Panji Gumilang tentu juga menjadi satu sorotan publik. Karena ia adalah pendirinya, sekaligus pengasuh pada pondok pesantren Al Zaytun.
Baca Juga: Amalan Sunnah Sebelum Sholat Idul Adha 2023, Salah Satunya Jangan Makan Sebelum Sholat Ied
Bagaimana bisa dia seperti itu? Tak kenal maka tak sayang, jadi berikut profil dan sejarah singkat dari Panji Gumilang sang pengasuh dan pendiri pondok Al Zaytun.
Mungkin awal dia menjadi terkenal karena berawal dari videonya yang cukup kontroversial, ya itu adalah video saat shalat. Dimana pada video tersebut jama’ah perempuan berdiri berseblahan dengan jama’ah laki-laki.
Tidak hanya itu, bahkan Panji Gumilang juga tengah merencanakan mendirikan gereja dan pesantren kristen di dalam Al Zaytun. Selain itu, karya dia yang lain adalah menghalalkan zina.
Baca Juga: Inilah Resep Ramuan Herbal Bagi Penderita Diabetes Melitus Lengkap dengan Cara Pembuatan Detailnya
Menurutnya, dosa zina itu bisa dimaafkan atau diganti cukup dengan uang. Ada pula keinginannya dalam menjadikan perempuan sebagai khatib sahalat jum’at, dan keraguan dia tentang Al-Qur’an.
Itulah tentang awal mulanya Panji Gumilang mulai terkenal di Indonesia. Agar lebih memahaminya, berikut profil dan ringkasan sejarah singkat Panji Gumilang.
Lahir di Gresik, 30 Juli 1956. Semasa kecilnya, ia pernah belajar dan mendapatkan pendidikan di Pondok modern gontor, yang dilanjutkan dengan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah.
Kemudian ia mendirikan yayasan pesantren Indonesia dan membangun pondok pesantren (ponpes) Al Zaytun. Kala itu, bahkan ponpes tersebut sampai diresmikan juga dengan presiden ke 3, BJ Habibie.
Berlanjut pada tahun 2004, Panji Gumilang dikatakan memperoleh gelar Doktor Honoris Causa pada bidang manajemen di kampus Inggris dan Amerika Serikat. Dikatakan jika gelar tersebut diperoleh karena jasanya dalam membawa perubahan pada sistem pendidikan Indonesia.
Adapun perubahan yang ia terapkan adalah sistem pendidikan satu pipa. Maksud dari pendidikan satu pipa adalah pendidikan formal yang tidak terputus dari tingkat dasar hingga sampai tingkat tinggi. Hal tersebut pun sesuai dengan penelitian pendidikan Islam Tabroni Roni (2019).
Pada tahun 1982 hingga 1989, Panji Gumilang juga telah dinobatkan menjadi Petugas Rabithah ‘Alam Islami yang saat itu ditugaskan pada Majelis Ulama Islam Malaysia Sabah bahagian Dakwah.
Adapula Panji Gumilang juga pernah menjabat menjadi Presiden Perhimpunan Keluarga Besar Indonesia Sabah Malaysia, (PERKISA), tahun 1982 hingga 1989. Selain itu, pengasuh Ponpes Al Zaytun tersebut juga sempat menduduki jabatan sebagai Ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah tahun 2006 sampai 2013.
Itulah sejarah singkatnya. Sedangkan awal mula Panji Gumilang itu terlihat menyimpang adalah setelah dia keluar dari sangkar besi atau jeruji besi di tahun 2015.
Menurut Imam Supriyanto, yang merupakan salah satu pendiri pondok pesantren Al Zaytun, beliau beranggapan awalnya Panji Gumilang ini lurus-lurus saja dan tidak ada yang menyimpang. Namun untuk saat ini dia terlihat kelewatan.
Terutama hal tersebut sangat terlihat mulai menyimpang setelah Dia keluar dari jeruji besi tahun 2015. Begitulah pengakuan dari Imam Supriyanto. Selain itu, dia juga menambahkan ada pula hubungan Panji Gumilang dengan Negara Israel.
Dari pikiran Imam Priyanto, Panji Gumilang ingin ke Israel hanyalah untuk mengetahui lebih luas pandangan dari luar Indonesia. Bahkan dari pengakuannya, Panji Gumilang juga sudah berhubungan dengan semacam direktur disana, dan ia hendak pergi ke Tel Aviv.
Nah itulah sejarah singkat dan profil dari Panji Gumilang. Jadi dari penjelasan di atas, dapat dikethaui jika keanehan Panji Gumilang berawal semenjak tahun 2015 dan setelah ia keluar dari pernjara hingga bisa lebih terkenal seperti saat ini.*** (Alma Malik Dewantara)