

inNalar.com – Rencana Jepang untuk membuang limbah radioaktif pembangkit listrik tenaga nuklir ke Samudra Pasifik membuat seisi dunia khawatir.
Diketahui, PLTN Fukushima yang menaunginya telah rusak pada 2011 akibat tsunami, sehingga sekitar satu juta ton air limbah yang sudah diolah terkumpul di sana.
Sebelumnya, pemerintah Jepang telah meminta persetujuan kepada Badan Energi Atom Internasional PBB dan mendapatkan dukungan.
Baca Juga: Tidak Terima Disindir Mark Zuckerberg! Elon Musk Langsung Meradang dan Siap Bawa ke Jalur Hukum
Namun, sejak diumumkannya pembuangan ini dua tahun yang lalu, rencana ini banyak ditolak oleh pihak dalam maupun luar negeri.
Hal yang paling membuat khawatir adalah dampaknya terhadap industri perikanan laut Jepang dan sekitarnya.
Pihak China dan Hongkong yang telah menentang hal ini melakukan pembatasan terhadap impor-impor produk makanan laut Jepang.
Di lain sisi, kewaspadaan Korea Selatan atas bahan pangan laut, seperti garam laut dan bahan utama kimchi, membuat harga naik karena ditimbun.
Sebagian besar warga dari Negeri Gingseng tersebut dilanda fenomena berbelanja bahan pangan laut secara berlebihan karena panik.
Penolakan ini bisa dibilang telah diprediksi dan wajar, sebagaimana diketahui limbah nuklir yang dibuang ke laut akan tersebar karena terbawa arus.
Baca Juga: Tidak Hanya Orang Tua Anak Muda Juga Bisa Terkena Diabetes Melitus, Begini Cara Mencegahnya
Pembawaan arus ini akan membuat seluruh laut di dunia terkontaminasi, termasuk perairan Indonesia.
Sebaliknya, pihak Jepang sendiri sudah mengklaim bahwa limbah tersebut aman karena telah disaring untuk menghilangkan semua unsur radioaktif kecuali tritium.
Tritium sendiri merupakan senyawa yang sulit dipisahkan dari air, di mana memiliki bentuk radiokatif oleh hidrogen dan karbon.
Meski tingkat radiasinya rendah, namun tetap menimbulkan risiko yang berbahaya bila dikonsumsi terlalu banyak.
Menteri Luar Negeri Jepang juga menjadwalkan untuk bertemu mitranya di China dan Korea Selatan dalam misi ‘membujuk’ mendapatkan persetujuan.
Sedangkan, para penentang rencana ini meminta pihak Jepang untuk tetap menyimpan air limbah tersebut untuk diteliti lagi di dalam tangki.
Hal ini bertujuan agar untuk meminimalisir polusi sebanyak mungkin agar tidak membahayakan publik.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi