

InNalar.com – Nikuba adalah akronim dari (Niku Banyu) yakni alat pengubah air menjadi bahan bakar.
Nikuba milik Aryanto Misel begitu viral, sehingga menarik dua raksasa otomotif asal Italia yaitu Lamborghini dan Ferrari.
Dua pabrikan otomotif tersebut, mengundang Aryanto Misel ke Italia untuk mempresentasikan Nikuba buatannya.
Siapa sangka, dibalik perjalanannya ke Italia, Aryanto Misel menyimpan kekecewaan yang mendalam.
Kekecewaan Aryanto Misel ditujukan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang tidak menghargai karyanya.
“Saya dibantai habis oleh peneliti BRIN pada saat presentasi di depan Jenderal Dudung waktu di Korem” ujar Aryanto diunggahan akun TikTok @teraswarga pada Senin (10/7).
Baca Juga: Berikut 4 Kota di Papua yang Butuh Perhatian Khusus, Bikin Miris! Penduduknya Banyak yang Buta Huruf
Padahal Nikuba miliknya sudah digunakan kurang lebih 50 motor Bintara Pembina Desa di lingkungan Makodam.
“Belum selesai saya menjelaskan sudah dipotong oleh mereka (peneliti BRIN), bahasa yang mereka gunakan juga tidak etis” tuturnya.
Tak hanya itu, Aryanto juga menyampaikan kekecewaannya pada saat menjadi narasumber di salah satu acara televisi nasional.
Baca Juga: Surabaya Panas, Yuk Ngadem di Hotel Bintang 5 di Jawa Timur Ini! Ada Sauna Mewah Lho
Salah satunya video yang dibagikan oleh akun Twitter @kegblgnunfaedh, Aryanto mengatakan tidak membutuhkan pemerintah dan BRIN untuk mengembangkan Nikuba.
Ia bahkan berencana menjual penemuannya seharga 15 Miliar ke luar negeri.
Kekecewaan semakin bertambah ketika Aryanto datang ke Italia, tiba-tiba tanpa sepengetahuannya ada perwakilan BRIN yang ikut terlibat.
Aryanto beralasan bahwa dari awal sudah diremehkan oleh pihak BRIN, dan tidak support.
Menanggapi hal ini, Ketua BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa ingin bersama-sama mengembangkan Nikuba.
“BRIN memiliki fasilitas yang terbuka untuk periset di tanah air, baik untuk universitas bahkan individu ” ujarnya pada saat konferensi pers di kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. *** (Razif Abdillah)