

inNalar.com – Kota Semarang tidak hanya memiliki kuliner yang khas saja.
Melainkan juga ada bahasa Semarangan yang khas di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini.
Bagi warga Semarang bahasa Semarangan sudah tidak asing di telinga mereka.
Baca Juga: Mendadak Jadi Sultan, Mbah Taryo Terima Rp 19 Miliar Dari Pembangunan Tol Jambi-Belitung
Bahkan bahasa Semarangan digunakan untuk tambahan bahasa jawa yang biasa digunakan masyarakat untuk berkomunikasi.
Bahasa Semarangan juga sudah ada sejak dulu hingga sekarang masih banyak yang menggunakan.
Berikut beberapa bahasa Semarangan yang wajib diketahui oleh para pendatang agar tidak bingung.
Baca Juga: Mall Mewah di Balikpapan Ini Mengusung Konsep Dunia Dongeng, Termegah di Kalimantan Timur
1. Ndes
Ndes berasal dari kata Gondes yang memiliki konotasi negatif untuk memanggil seseorang.
Jika di Jakarta ada Lu dan di Surabaya ada Cok, di Semarang ada Ndes yang banyak digunakan warganya.
Terutama untuk warga yang seumuran atau usianya di bawahnya.
Baca Juga: Punya Kuliner Mendunia, Daerah Besar di Sumatera Barat Ini Justru Punya Angka Kemiskinan yang Tinggi
Jangan gunakan kata ini kepada yang lebih tua karena terkesan tidak sopan.
2. Ik
Kata imbuhan Ik sering digunakan oleh warga Semarang untuk berkomunikasi.
Ik sebuah kata penegasan dari sebuah kalimat ketika sedang diutarakan.
Misalnya Lha nopo ik? (memangnya kenapa) dan Lha piye ik? (memangnya bagaimana).
Tak semua kalimat menggunakan penegasan Ik, hanya kalimat tertentu saja.
3. Sebeh atau Semeh
Sebeh memiliki arti bapak dan semeh mempunyai arti ibu.
Sedangkan jika digabung Sebeh Semeh memiliki arti orangtua.
Jika jangan heran jika ada beberapa orang Semarang yang menggunakan kata ini.
4. Lur
Lur diambil dari kata sedulur atau yang berarti saudara.
Bahasa Semarangan ini lebih sering digunakan oleh orang yang baru dikenal atau tidak begitu dekat.
Ungkapan lur masih lebih sopan dibandingkan dengan ndes.
5. Nggambus
Jangan kaget jika tiba-tiba ada orang Semarang yang mengucapkan kata Nggambus.
Pasalnya, Nggambus memiliki arti bohong atau hanya omong kosong.
Kata ini diucapkan ketika seseorang mendengarkan cerita temannya yang diduga sedang berbohong.
6. Lhaiske
Nah loh kalau di Semarang diubah menjadi Lhaiske.
Kata tersebut biasanya diungkapkan ketika seseorang merasa kesal terhadap suatu situasi.
Sehingga jangan bingung jika nanti menemukan bahasa ini.
7. Luweh
Jangan salah kaprah, di beberapa daerah Luwe atau luweh berarti lapar.
Tapi di Semarang, Luweh artinya terserah atau tak mau tahu.
Kata ini diungkapkan ketika seseorang ketahuan melakukan kesalahan tapi tidak mau peduli.
8. Mremo
Bahasa Mremo yang berart aji mumpung sering digunakan ketika seseorang sedang mendapatkan kesempatan emas.
Sudah tak banyak warga Semarang yang menggunakan bahasa ini kesuali para orang tua.
9. Wagu
Bahasa Wagu mempunyai arti aneh atau tidak sesuai dengan keinginannya.
Bahasa Semarangan ini digunakan ketika orang tersebut mendapatkan hal yang tak sesuai ekspetasi.
10. Ingah-ingih
Bahasa Ingah-ingih memiliki makna keragu-raguan, tidak berani, tak punya pendirian, dan penakut.
Ingah-ingih sering disampaikan kepada seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu yang bisa merubah hidupnya.***