

inNalar.com – Banyak sekali yang bisa dimanfaatkan dari adanya bendungan. Bisa menjadi pembangkit listrik, menjadi suplai air baku, wisata dan banyak lagi.
Akan tetapi, terkadang dalam sejarah terciptanya bendungan atau waduk, pasti akan menyimpan sejarah kelam di dalamnya. Contohnya adalah Bendungan Kedungombo.
Sebagai informasi tembahan, Bendungan Kedungombo ini merupakan salah satu dari bendungan terbesar yang ada di Indonesia.
Bagaimana tidak, Bendungan Kedungombo ini sendiri memiliki luas sekitar 6.576 ha, dengan gabungan dari lahan perairan sebesar 2.830 ha, dan lahan daratan seluas 3.746 ha.
Bahkan dalam pembangunan Bendungan Kedungombo pun juga sampai memakan 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Boyolali.
Meskipun dengan adanya pembangunan bendungan tersebut, mengharuskan para warga sekitar untuk berpindah tempat tinggal. Bahkan hingga 37 desa yang harus angkat kaki dari rumahnya untuk melancarkan pembangunan waduk tersebut.
Selanjutnya, sebenarnya usia dari bendungan Bendungan Kedungombo pun sudah cukup berumur, karena pembangunannya dimulai saat bulan Januari 1984. Hingga akhirnya diresmikan oleh Presiden RI kala itu, yaitu presiden Soeharto di tahun 18 Mei 1991.
Selain itu, pembangunan bendungan ini Dalam pembangunannya kala itu juga termasuk mahal, yaitu dengan dana US$ 283,1 juta.
Dengan seiring berlalunya waktu, akhirnya Bendungan Kedungombo pun juga menjadi obyek wisata. Karena disana juga disediakan fasilitas menarik seperti jetsky, bebek air, speedboat, warung makan terapung, berkuda, hingga playground pun ada.
Dengan dibangunnya kawasan pariwisata, hal itu juga semakin berkembang dan menjadi kawasan agrobisnis. Karena para warga sekitar mengembangkan usaha perikanan darat yang menggunakan metode keramba.
Ditambah lagi, di tepi bendungan para warga juga mengembangkan usaha pertanian berupa buah-buahan dan sayur mayur.
Terlebih lagi, di area Bendungan Kedungombo tepatnya di Desa Ngargotirto, juga telah dibangun area pacuan kuda yang lengkap beserta lintasannya. Dengan lintasan yang disediakan adalah sepanjang 600 meter.
Tidak hanya itu, bahkan disana juga telah disediakan homestay. Selain itu, homestay yang dibangun adalah beriringan dengan rumah warga, sehingga para wisatawan juga dapat berbaur dengan warga sekitar.
Meskipun sekarang hanya nampak tempat pariwisata yang menyenangkan beserta dengan irigasi air untuk para warga, sayangnya pembangunan Bendungan Kedungombo ini harus mengorbankan dan menenggelamkan 37 desa.
Bahkan jumlah keluarga yang harus angkat kaki dari lokasi tersebut juga cukup banyak, yaitu sekitar 5.268 keluarga. Ditambah lagi keluarga-keluarga yang pindah tersebut pun harus pindah dengan dana ganti rugi yang cukup kecil.
Nah itulah ulasan singkat dari Bendungan Kedungombo, yang tenggelamkan 37 desa dalam pembangunan waduknya. Meskipun nampak menyenangkan dengan segala wisata disana, namun hal itu mengukir sejarah yang cukup kelam. Walaupun sekarang telah berkembang menjadi banyak bantuan bagi para warga.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi