Wow! Suku di Sulawesi Tenggara Ini Gunakan Bahasa Korea Sejak Puluhan Tahun Lalu, Intip Sejarah dan Faktanya

inNalar.com – Ada sebuah kampung di Sulawesi yang warganya mahir berbahasa Korea atau Hangeul.

Tak hanya pintar berbahasa Korea saja, di kampung tersebut hampir semua warga juga pandai menulis bahasa Hangeul.

Beberapa orang yang mengunjungi kampung di Sulawesi itu takjub, bahkan heran mengapa warganya bisa berbahasa Korea.

Baca Juga: Mangkrak Selama 40 tahun, Stasiun Garut Ini Dijuluki Sebagai Stasiun Termegah di Jawa Barat

Sehingga ketika berkunjung ke kampung yang ada di Sulawesi ini, membuat seolah-olah sedang berada di Korea.

Ternyata ada sejarah panjang mengapa warga di sebuah kampung di Sulawesi itu bisa berbahasa Korea dan menulis aksara Hangeul.

Suku Cia-Cia yang berada di Kampung Karya Baru, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara ini sudah bisa berbahasa Korea sejak tahun 2000-an.

Baca Juga: Inilah Perguruan Silat Historis di Jawa Timur yang Ikut Mendirikan IPSI

Dikutip dari beberapa sumber, Suku Cia-Cia yang bermukim di kampung Karya Baru, Pulau Buton berjumlah 80 ribu jiwa.

Mulai dari anak-anak hingga dewasa di kampung tersebut sudah mahir berbahasa Korea.

Hampir semua petunjuk tempat dan nama jalan di kampung Karya Baru menggunakan aksara Hangeul atau bahasa Korea.

Baca Juga: Bak Eropa, Siapa Sangka Perumahan Elit Ini Ternyata Ada di Papua

Di tahun 2000-an, Walikota Baubau saat itu prihatin dengan kondisi suku Cia-Cia yang tak memiliki aksara dari bahasa asli mereka.

Karena dianggap sebagai suku minoritas, Walikota Baubau khawatir bahasa asli Suku Cia-Cia akan punah.

Pasalnya, bahasa Suku Cia-Cia hanya mengandalkan bahasa lisan. Tidak ada aksara bahasa yang bisa dipelajari untuk keturunan berikutnya.

Kemudian pemerintah setempat mencari solusi untuk menambahkan bahasa aksara ke dalam Suku Cia-Cia.

Semula bahasa Wolio yang digunakan masyarakat Buton akan diterapkan kepada Suku Cia-Cia.

Tapi bunyi konsonan dari bahasa suku Cia-Cia tidak semua bisa ditulis dengan bahasa Arab yang khas.

Akhirnya pada tahun 2005 pemerintah bekerjasama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) untuk menggelar Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Baubau.

Seorang guru besar asal Korea, Prof. Chun Thay Hyun diajak untuk turut berdiskusi terkati hal itu.

Kemudian Prof. Chun Thay Hyun melakukan penelitian terhadap Suku Cia-Cia di Karya Baru.

Hasilnya ia menemukan tidak ada alfabet yang digunakan oleh Suku Cia-Cia, dan murni hanya menggunakan bahasa lisan saja.

Pada 2008, organisasi kemasyarakatan dari Korea Hunminjeongeum Research Institute mendatangi masyarakat Suku Cia-Cia.

Pemerintah dan organisasi tersebut kemudian menyusun kurikulum bahasa Korea untuk dimasukkan ke dalam pelajaran di sekolah-sekolah yang ada di sana.

Berkat aksara Hangeul, Suku Cia-Cia dikenal oleh masyarakat Korea, Jepang, Inggris,bahkan Amerika.

Masyarakat Suku Cia-Cia juga merasa cocok dengan aksara Hangeul yang diajarkan di sekolah sejak jenjang SD hingga SMA.

Sejak saat itu ada beberapa guru dari Korea didatangkan langsung ke Pulau Buton untuk mengajar di sekolah yang ada di sana.

Masyarakat Karya Baru yang semula dianggap sebagai minoritas dan dikucilkan, kini bisa berbangga diri dengan kemampuan bahasa Korea mereka.

Pasalnya dahulu masyarakat yang tinggal di Karya Baru, merupakan gusuran daari Kecamatan Sampilawa di Buton Selatan.

Mereka dipaksa migrasi oleh tentara Indonesia pada tahun 1969. Maka tak heran Suku Cia-Cia dikucilkan karena dianggap sebagai pendatang.

Banyak anak-anak Suku Cia-Cia yang lebih mudah mempelajari bahasa Korea ketimbang bahasa Wolio yang menggunakan aksara Arab.

Pelajaran bahasa Korea hanya ada di Kecamatan Sorawolio, Kota Baubau saja. Sehingga itulah yang membuat daerah tersebut unik bagi masyarakat luar.***

Rekomendasi