Ada ‘Desa Bali’ di Lampung? Ternyata ini Alasannya Kampung Unik di Banjit Vibesnya Bak Sisi Lain Pulau Dewata 


inNalar.com – Ada kampung unik di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way kanan, Provinsi Lampung.

Pasalnya, kampung unik ini memiliki ciri khas yang berbeda dari kampung pada umumnya di wilayah Kab Way Kanan, Lampung.

Pada saat kita berkunjung ke kampung unik yang ada di Kab Way Kanan Lampung ini, kita akan merasa seolah dibawa ke sebuah ‘Desa Bali’ .

Baca Juga: Wow! Ada ‘Great Wall’ China di Bukittinggi, Biaya Pembangunannya Dari Hasil Sumbangan Alumni SMA, Apa Benar?

Bukan ‘Desa Bali’ yang sesungguhnya, melainkan vibes kampung Bali yang dibentuk oleh para warga Bali yang pindah ke Lampung sejak tahun 1963 di pemukiman yang dikenal dengan Kampung Bali, kec Banjit, Kab Way Kanan, Lampung.

Rupanya, ada perjalanan yang panjang di balik vibes Bali di kampung unik tersebut.

Bermula dari kejadian bencana alam Gunung Agung meletus pada tanggal 17 April 1962 silam. Kejadian tersebut memaksa penduduk asli lereng Gunung Agung untuk pindah ke kota lain.

Baca Juga: Unik! Pondok Pesantren di Majalengka, Jawa Barat Ini Bangunannya Menyerupai Klenteng Khas Tionghoa

Pasalnya, mata pencaharian mereka lenyap akibat amukan Gunung Agung kala itu. Akhirnya, Pemerintah setempat mengakomodir korban bencana tersebut dan memindahkan para penduduk ke beberapa titik di Pulau Sumatera.

Salah satunya adalah Kampung Desa Bali Sadhar Utara yang ada di Kec Banjit, Kab Way Kanan, Provinsi Lampung.

Warga Bali yang terdampak oleh bencana meletusnya Gunung Agung pun akhirnya tiba di Kec Banjit Lampung pada bulan September 1963, hingga akhirnya desa yang ditinggali mereka dinamakan dengan Desa Bali Sadhar Utara.

Baca Juga: Daftar 5 Universitas Terbaik di Bandar Lampung , No 2 Ada Kampus Terfavorit se Lampung, Ada Kampusmu?

Rombongan warga Bali yang tiba di kec Banjit ini datang dari Kab Karangasem dan Kab Bangli, Bali.

Pada saat warga Bali telah tiba di tanah Banjit Lampung, mereka diberi jatah tanah seluas 2 hektare agar mereka bisa membuka lahan untuk kepentingan pembangunan tempat tinggal atau lahan mata pencaharian.

Para warga desa Bali Sadhar Utara Banjit menerima surat hak guna pakai lahan dari pihak pemerintah.

Setelahnya, para warga desa Bali Sadhar Utara pun akhirnya membangun tempat tinggal yang dibangun dengan bahan dasar kayu bulat dan bambu.

Bahkan, para warga pun tak lupa untuk membangun pos keamanan, klinik cek kesehatan, hingga tempat berkumpulnya masyarakat.

Dari waktu ke waktu yang pada mulanya Kec Banjit Lampung hanya berupa hamparan tanah tak berpenghuni, tetapi lama kelamaan dengan hadirnya warga transmigran Bali ke Desa Bali Sadhar Utara semakin banyak perubahan dan menjadi sebuah desa yang hidup.

Tak hanya membuat pemukiman, warga desa Bali Sadhar Utara Banjit pun bekerja sama untuk membangun infrastruktur sederhana seperti jembatan Way Umpu dan Way Neki.

Setelah panjangnya perjalanan pembangunan desa tersebut, timbul lah permasalahan antara warga transmigran Bali dengan warga asli daerah Banjit, Lampung.

Warga lokal Lampung tidak mengakui sertifikat tanah hak guna yang diberikan kepada warga desa Bali Sadhar Utara.

Menurut warga lokal, tanah yang ditinggali oleh warga desa Bali Sadhar Utara merupakan tanah nenek moyang mereka. Namun, dengan adanya mediasi dari pihak kepala desa dan pemerintah akhirnya sengketa tanah pun berakhir.

Kini, desa Bali Sadhar Utara di Kec Banjit terlihat banyak gapura di pinggir jalan seakan membuat orang yang melintasi jalannya seolah berada di Pulau Bali.

Mata pencaharian andalan mereka pun tetap sama, yaitu bertani di lahan basah.***

Rekomendasi