

inNalar.com – Sulawesi Tengah punya keindahan yang tersimpan, salah satunya di Pulau Lutungan.
Pulau Lutungan terletak di Kabupaten Toli-toli Sulawesi Tengah. Pulau ini memiliki keunikan karena menyuguhkan pantai pasir putih dan air yang jernih.
Keindahan Pantai Luntungan didukung adanya populasi terumbu karang yang ditinggali ikan warna-warni yang menakjubkan.
Selain keindahan alam, Pulau ini juga menjadi wisata bersejarah religi di Sumatera Tengah karena terdapat makam Para Sultan dan Raja Tau Boki dari Tolo-toli.
Salah satu makam raja dari Toli-toli yang terkenal bernama Syaefudin Bantilan. Makam berada di Puncak Tando Kanau.
Untuk menuju makan para raja harus menaiki tangga yang sering membuat wisatawan atau peziarah bingung.
Setiap orang menaiki tangga dan menghitung anak tangganya akan memiliki jumlah yang berbeda-beda.
Keunikan ini berlaku ketika mulai menuruni tangga jumlahnya akan berbeda lagi saat naik.
Jumlah makam disana berjumlah 10, ada 7 makan di atas dan 3 makan di bawah. Disana juga ada makam-makan tua hingga yang tidak teridentifikasi identitasnya.
Baca Juga: Tiba-Tiba Hilang dari Peradaban, Desa di Jombang ini Paling diHindari Warga Sekitar, Angker?
Adapun informasi yang didapatkan dari juru kunci bahwa ada berbagai tujuan orang berkunjung ke makam para raja di Toli-toli ini.
ada kepercayaan masyarakat bahwa jika memiliki hajat atau keinginan dapat dipanjatkan saat berdoa di makan yang terletak di Tando Kanau Sumatera Tengah.
Setiap keinginan yang dipanjatkan harus dibarengi dengan seserahan yang diberikan bisa berupa sembelih ayam hingga kambing agar terkabul harapannya.
Namun tidak banyak pula wisatawan yang memang ingin mendoakan leluhurnya atau hanya ingin berwisata menikmati keindahannya sekaligus wisata religi.
Daerah Kabupaten Toli-toli ini dahulu salah satu wilayah persebaran Islam yang salah satunya dilakukan Raja Syaefudin Bantilan.
Raja Syaefudin pada masa kolonial Belanda memimpin dan sempat menjalankan hubungan kerjasama dengan Belanda setelah membutuhkan proses.
Berdagang menjadi salah satu yang digeluti sembari berdakwah menyebarkan agama Islam pada saat itu.*** (Melin Cahya Islachlaila)