Jauh dari Keramaian Jawa Timur, Warga di Jombang ini Pilih Tinggal di Tengah Hutan: Listrik-Sinyal Nihil


inNalar.com
– Di tengah gempuran era modern, nampaknya Indonesia masih memiliki daerah yang tertinggal. 

Banyaknya daerah dan penduduk di Indonesia, menyebabkan rasa perhatian pemerintah yang cukup kurang. 

Tapi apa jadinya apabila penduduk di suatu desa justru menolak untuk mendapatkan perhatian? 

Baca Juga: Paling Unik di Surabaya, Masjid Berdesain Kotak-kotak Karya Ridwan Kamil Ini Telan Biaya Miliaran Rupiah

Desa yang terletak di Dusun Watuseno, Kecamatan Wonosalam, Jawa Timur ini nampaknya jauh dari hiruk-pikuk kota Jawa Timur. 

Berada di tengah hutan, Desa ini hanya dihuni oleh 5 rumah dan diisi oleh 5 kepala keluarga. 

Meskipun modernisasi dan bantuan pemerintah sudah banyak dilayangkan, tetapi penduduk di desa ini kerap menolak. 

Baca Juga: 3 Masjid Terbesar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Nomor 1 Bak Istana Megah dan Tampung 10 Ribu Jamaah

Mereka memilih untuk tetap tinggal di tengah hutan dengan kondisi rumah yang terbuat dari anyaman bambu, jauh dari kesan mewah. 

Tak hanya disitu, penduduk di desa ini memilih untuk hidup dalam keseimbangan alam, mereka acap kali mengandalkan dedaunan maupun tanaman singkong untuk meredakan rasa lapar.

Yang lebih mengejutkan, di era canggih teknologi seperti sekarang, penduduk desa wonosalam menolak listrik dan mengandalkan penerangan obor. Mengapa ya? 

Baca Juga: Jembatan Gantung di Bogor, Jawa Barat Ini Akan Jadi yang Terpanjang se-Asean, Kalahkan 516 Arouca di Portugal

Dilansir dari akun youtube, Cakra Panorama, Desa ini benar-benar terletak di tengah hutan belantara. Jauh dari tetangga, jauh dari keramaian, dan jauh dari era modern. 

Dengan pilihan penduduk desa wonosalam yang dirasa aneh, terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan. Berikut kami rangkum untuk pembaca setia inNalar.com

Kehidupan Menyatu dengan Alam

Desa Wonosalam merupakan bagian dari desa yang menyatu dengan alam. Di sini, masyarakat dapat menikmati dan berbaur dengan flora dan fauna. 

Keberagaman Hayati di Hutan ini memberikan sumbangsih sedikit banyak nya untuk kehidupan para penghuni desa. 

Turut melakukan Upaya Melestarikan Lingkungan

Dalam wawancara bersama akun youtube Cakra Panorama, salah satu penduduk di desa ini mengatakan bahwa mereka kerap kali menanam pohon pisang dan singkong untuk seni bertahan hidup. 

Hal ini menjadi suatu cara keberlangsungan lingkungan ditengah maraknya penebangan liar.

Tantangan Kehidupan di Tengah Hutan

Meskipun menjadi pilihan masing-masing, Penduduk desa ini kerap kali mendapatkan tantangan yang beragam. 

Salah satunya adalah terbatasnya akses infrastruktur yang dapat memudahkan jalan hidup mereka. 

Mereka kerap kali kesulitan dalam mencapai akses pendidikan, transportasi, hingga kesehatan yang merupakan hak bersama. ***

(Febi Komala Dewi) 

Rekomendasi