

inNalar.com – Ada nama desa yang sangat unik di Kecamatan Megaluh, Jombang. Nampak sangat romantis jika membaca nama desa yang satu ini.
Nama desa ‘Romantis’ ini adalah Desa Pacar Peluk. Desa unik ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan Megaluh, Jombang.
Di balik penamaan sebuah desa, biasanya ada kisah mendalam di baliknya, termasuk nama Desa Pacar Peluk yang berada di daerah kecamatan Megaluh, Jombang.
Baca Juga: Inilah 5 Daerah Terkaya di Provinsi Bengkulu, Nomor 1 PDRB Per Bulannya Capai Rp 28 Jutaan
Penamaan desa unik di Megaluh Jombang ini membuat banyak penduduk beranggapan bahwa desa ini dibangun atas kisah romantis sebagaimana ketika membaca nama uniknya, Desa Pacar Peluk.
Lalu, benarkah kisah desa Pacar Peluk memang se romantis itu? Mari kita ungkap kisah di balik penamaan unik desa yang ada di Kec Megaluh, Jombang.
Dahulu, desa Pacar Peluk hanya berupa hamparan hutan rindang yang tidak berpenghuni. Kemudian, dikisahkan bahwa ada seorang pengembara asal Jawa Tengah, namanya Mbah Wonoyudho mendatangi desa Pacar Peluk yang saat itu belum diberi nama.
Baca Juga: 2 Jam dari Bandung, Stadion yang Berdiri Sejak Tahun 1980 Ini Jadi yang Paling Tua se Jawa Barat?
Mbah Wonoyudho kemudian berniat mengubah hutan tersebut untuk dijadikannya tempat tinggal menetap.
Rupanya, di antara pepohonan rindang yang ada di desa unik di Megaluh Jombang ini, banyak ditemui oleh sang pengembara itu tanaman bunga pacar air.
Tak lama berselang, ada seorang pengembara dari asal yang sama dengan Mbah Wonoyudho, namanya ialah Mbah Kalam.
Mbah Kalam kemudian ikut membantu Mbah Wonoyudho membabat hutan lebih luas lagi agar area hutan belantara di Megaluh Jombang tersebut segera bisa digunakan sebagai pemukiman penduduk.
Saat itulah mereka berdua gotong royong membangun Desa baru di hamparan Kecamatan Megaluh, Jombang.
Karena begitu senangnya dengan Mbah Kalam yang telah membantunya mengubah hamparan hutan belantara di Megaluh Jombang, Mbah Wonoyudho menjodohkan putrinya yang bernama Kik Liyah dengan Mbah Kalam.
Selain Kik Liyah, Mbah Wonoyudho memiliki empat anak lainnya, namanya adalah Kik Wiroyudho, Kik Joyosudho, Kik Reksoyudho, dan Kik Ranuyudho.
Tentu pembabatan hutan pun masih terus dilanjutkan. Bahkan, semua putra-putri Mbah Monoyudho bersama Mbah Kalam bekerja sama bahu-membahu melanjutkan pembukaan lahan tak berpenghuni di Kec Megaluh, Jombang.
Selain membabat hutan, ada juga yang fokus bercocok tanam. Di tengah kesibukan mereka membuka lahan yang akan dijadikan tempat tinggal, tiba-tiba terlihat seorang lelaki sedang bertapa di bawah pohon mangga dengan menggunakan kupluk kuncirnya.
Di tempat lelaki tersebut bersemedi, daerah tersebut berlanjut menjadi nama Dusun Peluk.
Waktu kian berlalu, lahan telah menjadi sebuah pemukiman yang ditinggali oleh keluarga Mbah Wonoyudho dan Mbah Kalam, hingga Desa yang ada di Megaluh Jombang ini diteruskan oleh anak cucunya dan semakin berkembang menjadi Dusun Pacar dan Dusun Peluk.
Sekitar tahun 1870-an, cucu dari putra Kik Wiroyudho tersebut menjabat sebagai kepala lurah yang membawahi Dusun Pacar dan Dusun Peluk beserta dua dusun lainnya yang bernama Dusun Soko dan Dusun Tegal Rejo.
Sejak saat itulah, dia menggabungkan dua nama desa tersebut menjadi Desa Pacar Peluk. Dengan penggabungan nama desa tersebut, ia pun akhirnya bisa membuat sebuah Balai Desa yang megah bagaikan istana keraton.
Hingga kini, Desa Pacar Peluk masih tercatat secara administratif sebagai bagian dari wilayah Kec Megaluh, Jombang.
Suasana alamnya yang dipenuhi pohon rindang dan asri, ditambah dengan angin sepoi dan suara aliran deras kali di sekitarnya seolah menambah suasana nyaman desa Pacar Peluk, Kec Megaluh, Jombang***