Mengejutkan! Sidoarjo Memiliki Sederet Pulau Kecil Tak Berpenghuni, Salah Satunya Terbentuk Karena Tragedi

InNalar.com – Indonesia yang merupakan negara Maritim tercermin dari banyaknya pulau yang tersebar, dari pulau besar hingga pulau kecil, pulau berpenghuni hingga tak berpenghuni, pulau alami hingga buatan. Ternyata Kabupaten Sidoarjo memiliki pulau yang potensial.

Sidoarjo sendiri punya Pulau Dem sebagai bentuk pulau alami yang berpenghuni meski tak banyak warganya, serta Pulau Lusi sebagai pulau buatan akibat dari tragedi Lumpur Lapindo yang tidak kalah potensial.

Siapa sangka Kabupaten Sidoarjo punya pulau? Ya, meskipun hanya pulau kecil tetap merupakan hal yang potensial untuk dikembangkan. 

Baca Juga: Telan Dana 78 Triliun, Inilah Terowongan Terpanjang di Indonesia, Bisa Tembus Perut Bukit di Sumatera Barat

Ternyata Sidoarjo punya empat pulau kecil, satu diantaranya sudah berpenghuni. Menurut data dari Badan Pusat Statistika (BPS) nama pulau-pulau kecil itu letaknya di Kecamatan Jabon yaitu pulau Pandan, Pitu, Kepung, dan Dem.

Diantara pulau tersebut, pulau Dem yang sudah berpenghuni, diduduki oleh 8 kepala keluarga. Untuk menuju pulau Dem diperlukan jarak tempuh sekitar 24 km menyusuri tepi sungai brantas. 

Selain itu, pulau Dem memiliki beberapa spot pemancingan. Masyarakat bisa melakukan aktivitas memancing di sekitar perairan tersebut, pengunjung akan mendapat ikan Barramudi hingga Kakap Putih. 

Baca Juga: Sudah Investasi 53 Triliun, Satu-satunya Kereta Api di Kalimantan Timur Ini Malah Batal Digarap, Tapi ….

Pulau Dem sendiri satu paket dengan Wisata Bahari Tlocor, cukup merogoh kocek 5000/orang saja untuk biaya tiketnya. Pengunjung yang ingin mengunjungi pulau Dem menggunakan perahu dikenakan biaya 5000 saja untuk pulau pergi. 

Pulau potensial di Sidoarjo selanjutnya, berada di tengah sungai Porong. Tepatnya di dusun Tlocor, Kedung Pandang, Jabon. Nama pulaunya yakni Pulau Lusi. Pulau ini berawal dari endapatan lumpur lapindo dan termasuk kategori pulau buatan.

Semula, pulau Lusi bernama pulau Sarinah. Hingga akhirnya berganti nama secara resmi menjadi pulau Lusi yang artinya Pulau Lumpur Sidoarjo. Adanya pergantian nama di inisiasi oleh Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan yang menjabat di tahun itu. 

Baca Juga: Digadang Jadi Stadion Termahal Rp130 Miliar se-Sumatera Barat, Kini Kondisinya Miris Dilihat

Karena pulau lusi merupakan pulau baru yang berasal dari endapan lumpur lapindo, perlu kendaraan air untuk menuju kesana. Tapi, jangan khawatir. Pengunjung bisa menggunakan perahu, maupun spead boat yang disediakan.

Pihak pengelola menyediakan transportasi tersebut agar pengunjung dapat mengitari keindahan pulau lusi. Pengunjung cukup membayar Rp. 25.000/orang. Waktu tempuh yang diperlukan hanya 15-20 menit menggunakan kapal.

Kondisi pulau Lusi sendiri memang terkesan gersang, namun terasa asri. Sampah disana sudah terkelola dengan baik, jadi tidak ada sampah yang berserakan. 

Ternyata, pemerintah setempat juga ikut merawat Pulau Lusi, loh. Rumornya, ada satu keluarga yang diberikan amanat untuk tinggal di pulau Lusi dengan tujuan menjaga serta merawat lingkungan sekitar. Selain itu, anggota Koramil juga turut membantu merawat pulau tersebut.

Secara historis, pulau Lusi lahir dari Tragedi Lumpur Lapindo. Dari tragedi yang terjadi belasan tahun silam ternyata juga memiliki dampak positif yang berdampak pada masyarakat sekitar. Melalui tragedi tersebut nampaknya sudah mulai diterima dengan baik oleh masyarakat Sidoarjo, meski ada beberapa hal yang belum terselesaikan.

Menurut warga setempat, pulau lusi memang terbentuk karena endapan yang berasal dari aliran sungai, selanjutnya mengarah ke laut lepas. Pada aliran tersebut tentu membawa material yang dibawa dari Lumpur Lapindo. Seiring berjalannya waktu, endapan itu membentuk sebuah pulau baru.

Pengunjung akan menemukan beberapa spot menawan di Pulau Lusi, dengan luas 93,4 hektar ini. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama menuju pulau tersebut, tapi pengunjung akan merasa terbayar dengan lunas ketika sudah sampai tujuan.

Bagaimana tidak, pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah yang tentunya asri sekali. Jadi, tidak heran jika pulau Lusi masuk dalam kategori destinasi terpopuler kedua di Indonesia pada Anugerasi Pesona Indonesia (API) tahun 2019. 

Spot yang ditawarkan oleh Pulau Lusi sendiri, salah satunya gazebo. Di gazebo pengunjung dapat istirahat sejenak ditemani oleh pemandangan pohon-pohon yang rindang nan sejuk. 

Selanjutnya, pengunjung dapat berkunjung ke mangrove yang sudah ada jalan setapaknya jadi tidak perlu khawatir sulit cari akses jalan. Bagi pengunjung yang ingin piknik atau camping juga disediakan lahannya.

Pengunjung bisa berkunjung di waktu pagi atau sore, karna kalau siang tentunya akan merasakan teriknya matahari. Apalagi, lokasi yang berdekatan dengan daerah semburan lumpur tentunya bau menyengat akan mewarnai perjalanan siang Anda. 

Perjalanan sore lebih disarankan ya, pengunjung bisa menikmati view matahari tenggelam yang eksotis. 

Mengendarai speedboat bisa jadi saran alternatif. Cocok banget buat yang ingin seru-seruan. Pengunjung bisa membayar biaya sewa sebesar Rp. 150.000.

Sisi menariknya lagi, ternyata pulau ini punya tambak dengan luas 2,73 Ha yang disebut Tambak Wanamina. Awalnya tujuan dibangun tambak ini untuk memantau perilaku biota ikan, adakah pengaruh lumpur yang ada terhadap ikan di muara, sehingga berjalan 3 tahun ternyata biota ikan baik-baik saja bahkan sampai layak panen.

Hingga saat ini, Pulau Lusi dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) setempat yang didampingi oleh pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam merawat serta mengembangkan wisata dalam jangka panjang. Selain itu, pulau lusi dengan mangrove nya telah menjadi Kawasan Pusat Retorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM). Sehingga, selain berwisata dapat juga berperan melestarikan bakau. ***

Rekomendasi