
inNalar.com – Sudah tahu tentang tambang tembaga milik PT Freeport Indonesia? Kereta listrik canggih yang beroperasi di tambang bawah tanah Papua mampu mengangkut bijih komoditas tanpa awak.
Operasional kereta canggih Freeport ini dikendalikan secara remote oleh para pekerja lokal Papua yang sudah terlatih.
Sejak April 2020, PT Freeport Indonesia (PTFI) Papua menutup produksi bijih konsentrat tembaga dan emas dari tambang terbuka atau open pit Grasberg.
Baca Juga: Dulunya Kampung Kumuh, Desa di Malang, Jawa Timur Ini Disulap Jadi Surga
Terdapat 4 tambang bawah tanah yang terus beroperasi komoditas mineral hingga saat ini mencakup Deep Ore Zone dan Grasberg Block Cave.
Kemudian bagian bawah tanah lainnya terdapat tambang Deep Mill Level Zone dan Big Gossan.
Keempat titik tambang ini ternyata menghasilkan produksi bijih tembaga yang fantastis. PT. Freeport dapat hasilkan konsentrat mencapai 220-230 ribu ton per hari.
Baca Juga: UMP Provinsi Baru di Indonesia 2025 Tak Kunjung Disahkan, Berapa Perkiraan UMR Papua Pegunungan?
Anton Priatna, Vice President Underground Engineering Freeport Indonesia Papua menyampaikan perediksinya pada tahun 2029, produksi ini akan semakin bertambah menjadi 240 ribu ton per hari.
Hal ini disebabkan karena tambang bawah tanah kucing liar yang beroperasi.
Tambang bawah tanah ini memang sangatlah besar dan megah. Panjangnya mencapai 850 kilometer dengan dibuat bertingkat.
Proses pembangunannya pun tidak mudah. Butuh waktu 11-15 tahun untuk dapat menyelesaikan pembangunan infrastruktur ini.
Kegiatan pertambangan bawah tanah sendiri telah dimulai tahun 2015 sementara persiapan infrastrukturnya sudah dimulai sejak 2004.
Tanah tambang Papua bak harta karun yang tidak habis kekayaannya. Pihak PT Freeport mencatatkan bahwa jumlah cadangan tambang bawah tanah hingga tahun 2041 mencapai sekitar 29 miliar pound tembaga dan 24 juta ons emas.
Baca Juga: Uang Logam Kuno Belanda Tahun 1945 Ternyata Mampu Dijual dengan Harga Rp150 Juta Per Keping
Untuk memastikan angkanya, perlu eksplorasi selama 5-10 tahun.
Tambang bawah tanah ini semakin canggih dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Seperti kereta listrik tanp awak, pengangkut tanpa awak, dan operasi yang dilakukan secara remote dari ruang kontrol di permukaan.
Dilansir dari ptfi.co.id, penggunaan kereta listrik pengangkut bijih tembaga dan emas juga dibuat untuk mengurangi emisi pengganti truk besar.
Baca Juga: CEK DI SINI! Live Score Indonesia vs Laos Piala AFF 2024 Hari Ini dan Link Streaming RCTI Gratis
Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI dalam acara B-Universe Economic Outlook 2023, menyampaikan dengan terobosan ini, Perusahaan Emas Terbesar, Freeport di Papua dapat mengurangi emisi hingga 80 ribu ton CO2.
1 kereta listrik yang terdiri dari 10 gerbong hanya butuh 1 lokomotif listrik. Teknologi ini setara dengan truk sebanyak 75 unit dengan kapasitas 300 ton. Tentu perbedaan hasil emisi yang dihasilkan sangat signifikan.
Hal ini dilakukan karena tambang semakin dalam, dan tentu risikonya begitu berat dibandingkan tambang permukaan.
Menariknya lagi, Freeport Papua sudah merekrut 200 operator remote yang ahli dan dapat bekerja secara shift selama 24 jam.
Mereka menggunakan alat rider remote yang diletakkan di 8 km bawah tanah dan dihubungkan ke control room menggunakan wifi.
Disampaikan oleh pihak PTFI bahwa tantangan tmbang bawah tanah ini begitu kompleks. Beberapa diantaranya karena bahaya silika yang cukup tinggi kemudian lumpur basa yang juga berbahaya karena jumlahnya yang banyak.
Sehingga mitigasi dilakukan dengan cara lebih aman yakni operasi remote dari permukaan.*** (Aliya Farras Prastina)