Masih Awet, Inilah 3 Tradisi Unik di Jambi yang Tetap Eksis: Ada Upacara Khusus Pernikahan!

inNalar.com – Sebagai warga negara Indonesia tentu sudah tidak asing dengan berbagai tradisi unik yang ada di setiap daerah.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki tradisi unik mereka masing-masing, termasuk juga Jambi dan wilayahnya.

Beberapa tradisi unik tiap daerah ada yang berhasil dilestarikan hingga saat ini, namun, ada juga yang harus hilang tergerus zaman.

Baca Juga: Serap Dana Sampai Rp 1 Trilun, Bendungan Terbesar di Sumatera Utara Ini Tampung Air hingga 21 Meter Kubik

Ternyata Jambi punya beberapa tradisi yang masih dipertahankan ditengah zaman yang sudah modern sekarang ini.

Beberapa tradisi unik di Jambi yang bisa dipelajari tersebut adalah :

1. Tradisi Malam Berinai

Tradisi Malam Berinai adalah sebuah upacara adat yang dilakukan oleh warga Jambi sebelum melangsungkan pernikahan.

Baca Juga: Tercanggih di Dunia! Sirkuit F1 di Bintan Kepulauan Riau Seluas 237 Ha Akan Terhubung Menuju Kanal Air Laut

Tradisi Malam Berinai dilakukan di malam hari tepat sebelum ijab qabul.

Dalam upacara Malam Berinai akan ada pertunjukan Tari Inai.

Pertunjukan Tari Inai merupakan acara inti dari upacara Malam Berinai.

Baca Juga: Berluas 700 Meter Persegi, Situs Terbesar se-Jawa Timur Akhirnya Terungkap, Diduga Sudah Ada Sejak Abad ke-11!

Bagi masyarakat setempat, dengan menampilkan Tari Inai maka calon mempelai wanita akan terlindungi dari gangguan manusia maupun makhluk halus.

2. Tradisi Maanta

Tradisi Maanta sangatlah populer di kalangan masyarakat Jambi dan sekitarnya.

Dalam tradisi Maanta, para warga akan mengantarkan rantang berisi makanan ke sana saudara mereka.

Kemudian, rantang tersebut akan dikembalikan setelah mengisinya dengan jenis makanan yang sama.

Tradisi Mantaa memiliki makna yang sangat dalam.

Makna dari tradisi Maanta adalah untuk mempererat silaturahmu dengan sanak saudara dan agar lebih mengenal silsilah kelaurga.

3. Tradisi Makan Kelung

Berbeda dengan tradisi-tradisi sebelumnya, tradisi Makan Kelung hanya dilakukan saat ada anggota keluarga yang terkena penyakit aneh.

Pada tradisi Makan Kelung ini, para wanita yang dianggap suci atau yang sedang tidak haid akan mempersiapkan sesaji yang dibutuhkan.

Setelahnya, akan dilakukan prosesi-prosesi tertentu untuk menyembuhkan anggota keluarga yang tengah sakit tersebut.*** (Ralda Maya Runita)

Rekomendasi