Fakta Unik Jembatan Liliba Kupang Nusa Tenggara Timur: Sejarah Panjang hingga Dijuluki Bangunan Pencabut Nyawa

inNalar.com – Bangunan jembatan Liliba Kupang adalah salah satu infrastruktur yang menjadi kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Ternyata jembatan ini telah menyaksikan berbagai peristiwa sepanjang usianya yang mencapai lebih dari 1/4 abad. Dalam artikel ini, kita akan mengungkap fakta unik dan sejarah panjang Jembatan Liliba yang menarik perhatian banyak orang.

Awalnya jembatan Liliba dibangun pada tahun 1990 dan mengalami proses pembangunan yang memakan waktu hingga tahun 1994.

Baca Juga: Tercatat Punya 12 Bandara, Benarkah Provinsi Aceh Penyumbang Bandar Udara Terbanyak di Indonesia?

Pada bulan Juli tahun itu, jembatan Liliba diresmikan oleh Haryanto dan Dhanutirto, yang merupakan Menteri Perhubungan Indonesia pada periode 1993-1998. Sejak saat itu, Jembatan Liliba telah berdiri kokoh selama 29 tahun hingga saat ini.

Jembatan Liliba berfungsi sebagai penghubung utama antara Kupang dan Penfui. Dengan lokasinya yang strategis, jembatan ini menjadi salah satu arteri vital bagi pergerakan kendaraan dan manusia di wilayah tersebut.

Fungsi konektivitasnya sangat penting untuk memastikan kelancaran lalu lintas dan mobilitas masyarakat serta barang.

Baca Juga: Telan 100 Miliar, Pemerintah Kalimantan Barat Bangun Gedung Bupati Baru yang Diklaim Jadi Wajah Kapuas

Pembangunan Jembatan Liliba tidak lepas dari ketersediaan dana yang besar. Untuk mewujudkan infrastruktur megah ini, pemerintah mengalokasikan dana hingga 3,5 triliun Rupiah. 

Biaya tersebut mencakup berbagai aspek teknis, pembebasan lahan, dan penanganan dampak lingkungan sekitar.

Meskipun Jembatan Liliba menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat, namun jembatan ini juga dijuluki dengan sebutan yang kurang menggembirakan.

Baca Juga: Sederet Sekolah di Sulawesi Selatan Ini Masuk Kategori Terbaik Nasional, Muridnya Banyak yang Lolos Kedokteran

Julukan “Jembatan Penyabut Nyawa” menjadi cerminan dari masalah serius yang terjadi di jembatan ini.

Dengan kedalaman hampir 300 meter dari atas jembatan dan berlandaskan bebatuan hampir setiap tahunnya menjadi pilihan bagi beberapa individu yang putus cinta atau merasa lelah dengan kehidupan untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan.

Selain itu, Jembatan Liliba juga dikenal sebagai “Jembatan Angker” karena banyak orang yang mengaku telah mendengar suara aneh, seperti tangisan atau suara anjing, di sekitar jembatan.

Beberapa juga melaporkan bahwa mereka telah melihat penampakan wanita atau anjing besar yang tiba-tiba menghilang di area sekitar jembatan.

Tidak hanya dikenal karena julukannya yang misterius, Jembatan Liliba juga menjadi lokasi tempat pengungkapan cinta.

Saat hari Valentine tiba, masyarakat sering mengunjungi jembatan ini untuk mengikatkan gembok pada jeruji jembatan sebagai simbol cinta dan kesetiaan terhadap pasangan mereka.

Tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya lokal dan menambah daya tarik Jembatan Liliba sebagai destinasi romantis di Nusa Tenggara Timur.

Jembatan Bergoyang yang Masih Handal. Isu tentang Jembatan Liliba yang sering bergoyang juga menjadi perbincangan di kalangan masyarakat.

Namun, kepala dinas pekerjaan umum dan penataan ruang NTT telah mengklarifikasi bahwa kondisi ini adalah hal yang wajar, terutama saat jembatan memikul beban maksimal selama saat-saat padat lalu lintas.

embatan ini dirancang dengan desain rangka baja tipe kalender Hamilton dan menggunakan berbagai perhitungan konstruksi untuk menjaga elastisitas dan keamanannya. Jadi, meskipun terlihat bergoyang, Jembatan Liliba tetap handal dan aman digunakan oleh masyarakat.

Dengan usia yang sudah mencapai 29 tahun pada tahun 2023, Jembatan Liliba telah menjadi saksi bisu banyak peristiwa dan perubahan di wilayah Kupang.

Diharapkan, infrastruktur ini akan terus berfungsi dengan baik dan terawat dengan baik hingga mencapai usia rencana, yakni kurang lebih 50 tahun.

Sebagai jembatan yang menghubungkan dua wilayah penting, Jembatan Liliba diharapkan akan terus melayani masyarakat dan berperan dalam mendukung pertumbuhan dan kemajuan Nusa Tenggara Timur ke depannya.***(Fisqiyyah Awawin)

Rekomendasi