

inNalar.com – Suku Minang atau juga yang dikenal dengan Minangkabau, mereka merupakan suku mayoritas di Sumatera Barat. Suku Minangkabau memiliki banyak keunikan dan tradisi yang hingga saat ini masih dipegang teguh.
Rumah Gadang memiliki arsitektur yang unik, masyarakat setempat menyembut rumah tersebut dengan rumah bagojong. Dinamakan demikian sebab atapnya memiliki bentuk gojong, dengan tengah melengkung.
Menariknya, pembangunan rumah gadang sama sekali tidak menggunakan paku, dan hanya menggunakan kayu dari pohon juha. Sedangkan untuk atapnya menggunakan ijuk yang dilengkungkan.
Pasak digunakan untuk memperkokoh bangunan sehingga tidak mudah roboh. Mengingat wilayah Sumatera Barat yang rawan terjadi bencana alam seperti gempa.
Sehingga, rumah gadang disebut-sebut tahan gempa. Karena adanya pasak yang kuat, sehingga apabila terjadi gempa rumah gadang hanya berayun mengikuti pergerakan gempa.
Ukuran rumah gadang tergantung pada jumlah lanjarny atau disebut ruas depan hingga ke belakang.
Baca Juga: Inilah 3 Universitas Terbaik di Jambi yang Dilengkapi Fasilitas Mewah, Circle-nya Para Sultan
Uniknya lagi dinding-dinding dalam rumah gadang banyak dipenuhi dengan ukiran-ukiran khas suku Minangkabau. Ukiran tersebut sebagai bentuk dari kearifan lokal yang dimiliki Sumatera Barat.
Tidak hanya itu, setiap motif dari ukiran dinding yang ada pada rumah gadang merupakan bentuk dari ragam seni kreasi timbul yang sudah ada sejak masa kerajaan Minangkabau.
Ukiran dinding tersebut tergolong dalam seni pahat yang dilakukan pada objek kayu. Teknik ukirnya juga menggunakan teknik khusus yang hanya diketahui oleh orang Minangkabau sendiri.
Pahatan dan ukiran membentuk satu kesatuan ragam hias yang unik dan harmonis.
Keunikan rumah gadang tidak hanya pada seni ukir dan tahan gempanya. Bentuk atap rumah gadang juga memiliki keunikan. Melansir dari beberapa sumber mengatakan bahwa rumah gadang memiliki arsitektur mirip dengan tanduk kerbau. Pernyataan ini tidak lepas dari sejarah pada masa kerajaan Minangkabau.
Masyarakat Minang menghubungkan bentuk atap rumah yang seperti tanduk kerbau dengan Tambo Alam Minangkabau. Tambo Alam Minangkabau sendiri merupakan arsip kumpulan kisah-kisah tentang asal usul, tradisi dan alam di Minangkabau.
Dalam Tambo Alam Minangkabau, menceritakan juga tentang bagaimana kerajaan Minangkabau menang dalam adu duel kerbau dengan orang Jawa dari kerajaan Majapahit.
Karena kemenangan itulah tanduk kerbau menjadi ikon untuk atap rumah suku Minangkabau. Bentuk banjong, tidak hanya digunakan sebagai atap rumah. Tapi suku Minangkabau juga menggunakan ikon tersebut untuk pakaian adat yang dikenal dengan Tingkuluak Tanduak, dan menjadi ikon yang khas masyarakat Minangkabau.***Lailatur Rofidah
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi