

inNalar.com- Nusa Tenggara Timur merupakan sebuah provinsi yang menyimpan berjuta keindahan alam yang sangat memukau.
Salah satu tempat yang memukau dunia adalah Desa Waerebo, sebuah desa adat terpencil yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.
Desa ini dijuluki “Negeri di Atas Awan” karena keunikan letaknya yang berada di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Keindahan dan keunikan desa ini telah menarik perhatian banyak orang dari berbagai penjuru dunia.
Waerebo terkenal karena kehidupan adatnya yang mempertahankan tradisi lama dari leluhur mereka. Desa ini memiliki daya tarik tersendiri dengan 7 rumah utama yang disebut “Baruniang” dan rumah gendang yang dihuni oleh masing-masing keluarga.
Baruniang berbentuk seperti kerucut dengan atap hampir menyentuh tanah dan dibangun menggunakan bahan-bahan alami yang diambil dari alam sekitar dengan arsitektur khas.
Masing-masing rumah di Waerebo terdiri dari lima tingkat. Tingkat dasar digunakan sebagai tempat tinggal keluarga, sementara tingkat kedua berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan.
Baca Juga: Berusia 156 Tahun, Stasiun Tertua di Indonesia Masih Kokoh Berdiri di Grobogan, Jawa Tengah Lho
Pada tingkat ketiga, mereka menyimpan benih-benih tanaman, sedangkan tingkat keempat dipergunakan untuk menyimpan makanan dalam jumlah besar untuk persiapan panen dan upacara adat.
Tingkat kelima adalah tempat penyimpanan sesajen untuk upacara keagamaan dan perayaan adat.
Kehidupan masyarakat Waerebo erat kaitannya dengan filosofi lingkaran yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam.
Suku Manggarai meyakini bahwa lingkaran adalah sumber keseimbangan, dan konsep ini tercermin dalam pola fisik desa mereka.
Pusat aktivitas desa adalah Compang, sebuah batu melingkar tempat warga mendekatkan diri kepada alam, leluhur, dan Tuhan.
Sumber air utama Desa Waerebo berasal dari pegunungan dan dikenal sebagai “Sosor”. Sosor dibagi menjadi dua, yaitu sosor pria dan sosor wanita.
Air dari Sosor ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Waerebo, termasuk untuk pertanian dan keperluan rumah tangga.
Meskipun terpencil dan jauh dari perkotaan, Desa Waerebo tetap memiliki kehidupan yang beragam. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, menanam umbi-umbian seperti kopi dan cengkeh.
Mereka mempertahankan kehidupan tradisional mereka sesuai dengan warisan yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.
Keunikan dan keindahan desa ini telah menarik perhatian banyak wisatawan lokal maupun mancanegara, sehingga pada bulan Agustus tahun 2012, Desa Waerebo diresmikan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, mengalahkan 42 negara lainnya.
Menariknya, Desa Waerebo tidak didirikan oleh orang asli desa tersebut. Pendiri desa ini adalah seorang pelancong dari Minangkabau, Sumatera Barat bernama Mpu Maru.
Ia berlayar dari Sumatera hingga mencapai Labuan Bajo. Melalui petualangannya, Mpu Maru dan keluarganya mencari wilayah yang cocok sebagai tempat tinggal yang layak.
Namun, pada awalnya, mereka tidak menemukan wilayah yang sesuai dengan kriteria mereka. Berkat petunjuk yang diterimanya dalam mimpi, Mpu Maru menemukan Wairebo sebagai tempat yang tepat karena kondisi tanah yang subur dan lingkungan yang sangat mendukung.
Sejak itu, Desa Waerebo terus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari keindahan alam, kesederhanaan budaya, dan kehidupan adat yang autentik.
Keberadaan desa ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan alam yang mempesona, bahkan di tempat-tempat terpencil seperti Negeri di Atas Awan, Desa Waerebo.
Semoga keindahan dan kearifan lokalnya dapat terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.***(Fisqiyyah Awawin)