Dulunya Kampung Kumuh, Desa di Malang, Jawa Timur Ini Disulap Jadi Surga

inNalar.com – Tidak banyak yang tahu, di tepian Sungai Brantas Malang, terdapat satu perkampungan kumuh dan penuh sampah yang dulu termarjinal.

Tidak hanya kumuh, tata letak rumah-rumah di daerah Malang itu juga berjajar tidak beraturan. Jangankan mampir, orang-orang yang berlalu lalang di Kota Malang pun bahkan enggan untuk melirik.

Adalah kampung Jodipan, meskipun dipandang sebelah mata, namun bagi warga Jodipan sendiri, kampung inilah yang menjadi tanah kelahiran tempat mereka bertumbuh dan berkembang.

Baca Juga: UMP Provinsi Baru di Indonesia 2025 Tak Kunjung Disahkan, Berapa Perkiraan UMR Papua Pegunungan?

Lalu, bagaimana kondisi kampung itu saat ini, apakah masih kumuh dan penuh sampah? Sebelum membahas lebih jauh, kita telusuri dulu benih-benih perubahan yang merubah wajah kampung ini.

Di tahun 2016 lalu, kelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan ide-ide kreatifnya membuat suatu gagasan besar.

Dengan keberaniannya, mereka kemudian mencari sponsor untuk program pemberdayaan masyarakat yang notabene-nya adalah tugas praktikum.

Baca Juga: Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Laos Piala AFF 2024 Gratis Siaran Langsung RCTI Hari Ini 12 Desember 2024

Setelah beberapa melakukan riset di lapangan, mereka kemudian mengajukan kerja sama dengan salah satu perusahaan cat yakni PT Inti Daya Guna Aneka Warna yang kala itu sedang menggenjot brand awareness karena produk cat yang dijualnya kurang dikenal masyarakat.

Meskipun proposal sempat ditolak oleh perusahaan, sekelompok mahasiswa ini tidak menyerah begitu saja.

Melihat kegigihan dan antusiasme mereka, pihak marketing communication PT Inti Daya Guna Aneka Warna kemudian memberikan sebuah tantangan kepada mahasiswa untuk mengemas kerja sama ini menjadi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Baca Juga: Uang Logam Kuno Belanda Tahun 1945 Ternyata Mampu Dijual dengan Harga Rp150 Juta Per Keping

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa mereka sudah seringkali menjalankan misi CSR, namun seringkali gagal untuk mencapai sustainability goals.

Disela perjalanan panjang itu, salah satu mahasiswa anggota kelompok menemukan suatu kampung yang kumuh, antah-berantah, dan penuh sampah di daerah Jodipan.

Setelah membidik dengan seksama, barulah ia menyadari bahwa kampung ini sangatlah cocok untuk menjadi objek pemberdayaan masyarakat.

Seusai ditelisik, kampung ini ternyata memiliki permasalahan lingkungan yang serius. Selain kurangnya kesadaran warga, kurangnya fasilitas tempat sampah membuat warga suka membuang sampah di sembarang tempat.

Berangkat dengan ide CSR itu, sekelompok mahasiswa ini kemudian bertekad mengubah kampung kumuh itu menjadi kampuh penuh warna, kampung warna-warni.

Dengan penuh harap, mereka akan melukis rumah-rumah tak beraturan itu dengan corak warna-warni yang cerah agar warga kampung Jodipan itu bisa menjaga kebersihan.

Dimulai sejak tanggal 22 Mei 2022, proyek pengecatan ini pun mulai berjalan dengan baik. Terlihat antusiasme para warga yang turut memeriahkan prosesi pengecatan ini. Beberapa dari mereka bahkan mewarnai rumahnya secara mandiri.

Berlanjut hingga bulan Agustus 2016, gagasan pembangunan jembatan yang menghubungkan Kampung Jodipan dan Kampung Kesatrian pun muncul.

Mochammad Anton selaku walikota Malang terdahulu bersama Steven Antonius selaku Vice President PT Inti Daya Guna Aneka Warna mengusulkan pembangunan jembatan yang telah diproyeksikan.

Dengan didukung oleh tim ahli dari Fakultas Teknik UMM, tim ini kemudian dibentuk untuk mengkonsepsi serta merancang desain struktur jembatan kaca.

Pembangunan jembatan ini memakan waktu selama 10 bulan, terhitung sejak bulan Mei hingga Oktober tahun 2017. Setelah diresmikan, jembatan ikonik ini tentu menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Selain jembatan kaca, kampung yang dipenuhi cat warna-warna cerah itu juga sangat mencuri perhatian masyarakat.

Hingga saat ini, kampung yang dulunya kumuh itu, kini menjadi sumber pendapatan bagi para warga Jodipan karena menjadi salah satu destinasi favorit bagi siapapun yang hendak berkunjung ke Kota Malang. *** (Evie Sylviana Dewi)