Jadi Markas Klub Besar, Stadion Mungil di Kalimantan Timur Ini Malah Hanya Mampu Tampung 18 Ribu Penonton

inNalar.com – Kalimantan Timur sebagai tempat ibu kota baru Indonesia tentunya telah membangun infrastruktur megah untuk menunjukkan kemajuan negara.

Beberapa wilayah di Kalimantan Timur, seperti contohnya Samarinda, telah membangun bangunan-bangunan megah yang menghabiskan dana tidak sedikit.

Bahkan, Samarinda memiliki stadion terbesar di Kalimantan Timur yang memiliki fasilitas serta arsitektur elit dengan daya tampung lebih dari 35.000 kursi.

Baca Juga: Habiskan Dana 3 Miliar, Jembatan Kembar di Sulawesi Selatan Ini Punya Keindahan Memukau dari Atas Sungai

Meski begitu, hal ini berbanding terbalik dengan stadion di kota yang sama dengan umur pembangunan mencapai 50 tahun lebih.

Stadion tersebut adalah Stadion Segiri, di mana memiliki 4 tribun dan memuat kurang lebih 18.000 orang.

Kompleksnya sendiri dibangun pada tahun 1960 hingga 1970, waktu bersamaan dengan pembuatan Balai Kota Samarinda.

Baca Juga: SPP Setahun Capai Rp 102 Juta, Sekolah Para Sultan di Jawa Timur Ini Hanya 1,5 Jam dari Kota Surabaya

Pada tahun 2008, pemerintah setempat sempat merenovasi stadion ini untuk menunjang persiapan PON XVII.

Stadion Segiri merupakan kandang juara divisi utama liga Indonesia 2014, Borneo FC Samarinda.

Selain itu, stadion mungil ini juga menjadi salah satu stadion perwakilan Kota Samarinda bersama Stadion Utama Palaran dan Stadion Gelora Kadrie Oening.

Baca Juga: Telan Dana Hampir 6 Triliun, Jalan Tol Terpanjang se-Jawa Timur Ini Hubungkan Kediri dan Tulungagung

Walaupun ukurannya yang kecil, stadion ini berhasil menjadi tempat bersejarah bagi Borneo FC untuk mengambil kemenangan di setiap pertandingan yang ada.

Stadion ini juga sering kali dipakai sebagai tempat pertandingan dan diharapkan dapat menjadi tuan rumah pertandingan level Asia.

Hal ini diikuti oleh pembenahan beberapa fasilitas yang dinilai tidak layak, seperti kondisi rumput dan lampu LED.

Kondisi stadion terkecil di Kaltim yang menjadi kebanggaan penduduk setempat ini berbanding terbalik dengan Stadion Utama Palaran.

Stadion yang dulunya menjadi kebanggaan Kaltim di mana sudah mendahului kemegahan GBK ini terbengkalai.

Kemegahan stadion 800 miliar itu harus berakhir karena kurangnya anggaran untuk merawat infrastruktur.

Dengan pemeliharaan dan perbaikan yang tepat, stadion-stadion di Kalimantan Timur, termasuk Stadion Segiri, dapat terus berfungsi sebagai simbol kemajuan dan kebanggaan bagi masyarakat lokal.

Semoga infrastruktur yang dibangun ini dapat mendorong pertumbuhan positif dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.***

Rekomendasi