

inNalar.com – Jembatan merupakan jalan yang menghubungkan dua bagian jalan yang terputus. Jembatan berfungsi untuk mempersingkat rute yang ditempuh.
Sebagai kota dengan jutaan sejarah, Surabaya memiliki jembatan yang dijuluki tercanggih pada masanya yaitu masa Hindia Belanda. Jembatan ini biasa dikenal dengan sebutan Jembatan Petekan.
Pada tahun 1920an, saat pembangunan kawasan pelabuhan Tanjung Perak. Di ujung timur Jalan Jakarta adalah jalan buntu yang bertemu dengan Kalimas.
Di sebelah timur Kalimas adalah Pangkalan AL dan bekas reruntuhan benteng Prins Hendriks di sebelah selatannya.
Pada tahun 1885-1942, Perwira Angkatan Laut Belanda Admiral Hendrikus Ferwerda ditugaskan di Pangkalan Ujung sebelah timur Kalimas. Kemudian pada 1933-1935 Ia ditugaskan memimping di camp udara AL di Morokembangan yang berada si sebelah barat Kalimas.
Sehingga Ia sangat mendukung adanya pembangunan jembatan Ferwedarburg ini untuk menghubungkan Pangkalan Ujung dan Pangakan udara AL di Morokembangan.
Baca Juga: Buya Yahya Beberkan Amalan agar Cepat Dapat Jodoh, Ternyata Lakukan Praktek Ini
Pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembangunan jembatan yang menghubungkan sisi timur dan barat Kalimas yang menyambung ke Jalan Jakarta.
Pada perencanaan ini dipilihlah jembatan gantung sebagai desain jembatan. Hal ini dikarenakan agar jembatan daat dinaik turunkan sesuai kebutuhan. Agar tidak mengganggu arus transportasi di Kalimas.
Hal ini dikarenakan dulunya Kalimas ini merupakan pelabuhan besar. Sehingga banyak kapal yang berlalu lalang di Kalimas ini.
Jembatan ini dibangun oleh N.V. Machinefabriek Bratt selama tiga tahun dengan dana sebesar 133.100 gulden. Jembatan ini mulai beroperasi pada 16 Desember 1939 yang diberi nama Ferwerdaburg yang diambil dari nama Admiral Hendrikus Ferwerda.
Pada masa itu, jembatan ini menjadi jembatan tercanggih pada masanya karena digerakkan dengan tenaga listrik sehingga dapat naik turun.
Jembatan ini memiliki tombol untuk menaik atau menurunkan jembatannya. Atau dalam bahasa Jawa harus di petek terlebih dahulu. Sehingga jembatan ini lebih dikenal oleh orang Jawa sebagai Jembatan Petekan.
Kini jembatan ini rusak dan tidak difungsikan karena di Kalimas ini juga tidak difungikan lagi sebagai pelabuhan lagi. Kini telah dibangun 2 jembatan baru yang berada di kanan dan kiri jembatan gantung petekan.
Kini jembatan petekan ini menjadi cagar budaya yang masih kokoh berdiri meskipun ada beberapa yang rusak. Sehingga masih dapat dilihat sebagai warisan peninggalan Hindia Belanda.*** (Irma Agustiana)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi