Diwariskan Sejak 1713, Intip Keunikan Tradisi Tangkap Ikan Khas Kep Sangihe Sulawesi Utara, Hampir Punah?

inNalar.com – Sulawesi Utara merupakan wilayah kepulauan yang memiliki potensi hasil maritim yang berlimpah, salah satunya ialah Kab Kepulauan Sangihe.

Sebagian besar penduduk Kepulauan Sangihe berprofesi sebagai nelayan dan petani, maka tidak heran jika mereka menyumbangkan komoditi perikanan yang cukup besar bagi Provinsi Sulawesi Utara.

Interaksi yang begitu tinggi dengan laut, tentu saja hal ini juga akan menghasilkan adanya ikatan budaya kemaritiman yang sangat melekat pada penduduk Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Baca Juga: Bandar Perdagangan Seluas 236 Ha di Gresik Jawa Timur Ini Ternyata Jadi Saksi Bisu Islamisasi di Tanah Jawa

Salah satu budaya kebaharian yang dimiliki oleh penduduk Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara ini ialah tradisi ‘Seke-Maneke’.

Tradisi khas penduduk Kepulauan Sangihe ini dahulu sangat ikonik bagi Provinsi Sulawesi Utara.

Yaitu, tradisi menangkap ikan dengan alat jaring khas Seke di Pulau Para, Kec Tatoareng, Kab Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Baca Juga: Samping Malaysia, Kampung Adat di Kalimantan Barat Ini Memiliki Bangunan Rumah Unik Berbentuk Bulat

Alat jaring khas Seke milik Kepulauan Sangihe ini berasal berupa anyaman bambu yang membentuk seperti pukat jaring ikan.

Pukat jaring ikan tradisional khas Kab Kepulauan Sangihe ini panjangnya 25 meter dan lebarnya 80 cm.

Adapun potongan bambu halus yang dianyam tersebut, diameternya rata-rata 2 hingga 3 cm.

Baca Juga: Jika Sekolah Harus Jalan Kaki Selama 2 Jam, Kampung Pelosok di Sulawesi Selatan Ini Unik Banget, Lokasinya…

Tradisi jaring ikan dengan alat tradisional yang berada di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara ini sudah membudaya sejak tahun 1713.

Bahkan, sampai tahun 1924, sudah ada beberapa organisasi yang mengakomodir budaya khas penduduk Kepulauan di Sulawesi Utara ini.

Penggunaan pukat jaring ini cukup menarik. Pasalnya, pukat khas Seke ini diletakkan di kedalaman laut sekitar 10 – 15 meter dan hanya untuk menangkap ikan Malalugis saja.

Lalu, mengapa harus ikan Malalugis yang perlu ditangkap saat tradisi Seke-Meneke khas Kepulauan Sangihe?

Rupanya, ikan Malalugis ini diyakini oleh penduduk setempat memiliki keterkaitan erat dengan nenek moyang penunggu laut.

Oleh karena itu, ikan Malalugis kemudian dianggap sebagai tangkapan yang cukup sakral bagi penduduk di Kepeulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Adapun dari hasil penelitian, ikan Malalugis ini memang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi.

Selain cita rasa yang lezat dan bergizi, ternyata ikan khas penduduk Kepulauan Sangihe ini disebut memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Digemari pula oleh banyak penduduk di Sulawesi Utara sebab durinya yang lunak.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi khas Seke Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara semakin punah sejak tahun 1999.

Kepunahannya tersebut diindikasi karena satu peristiwa yang menyedihkan dimana ada tragedi perebutan wilayah tangkapan ikan yang memakan korban jiwa.***

Rekomendasi