

inNalar.com – Fungsi bendungan umumnya merupakan infrastruktur penting untuk menyediakan air bersih dan sebagai pengendali banjir.
Karena itulah, beberapa bendungan hanya didesain sesederhana mungkin sebab tujuannya memang bukan untuk wisata.
Namun, beberapa bendungan memiliki arsitektur unik yang menjadikannya sebagai alternatif sebagai tempat rekreasi bersama keluarga.
Salah satunya adalah bendungan di Provinsi Banten, di mana memiliki keunikan arsitektur yang mengimitasi bentuk bangunan dari kuil di Athena, Yunani.
Dilansir inNalar.com dari laman kebudayaan kemdikbud, bendungan tersebut bernama Bendungan Lama Pamarayan.
Uniknya, bendungan ini terletak di dua wilayah, di mana sebagian berada di Desa Pamarayan, sedangkan setengahnya di Desa Panyabrangan, Kabupaten Serang, Banten.
Bendungan ini juga merupakan dam yang dibangun oleh kolonial Belanda sebagai bendung air terbesar pertama di Indonesia pada tahun 1901.
Panjangnya mencapai 191,65 m dengan arsitektur bangunan pintu air yang mirip dengan bangunan kuil di Athena.
Pintu airnya sendiri terdapat 10 buah, dan memiliki desain sebagai jembatan dengan beberapa bentangan yang dilengkapi menara.
Jumlah 10 pintu air ini tentunya memiliki kesamaan dengan bendungan lain di Banten yang juga dibangun pada pemerintahan Belanda, yakni Bendungan Pintu Air 10, Tangerang.
Pada bangunan pintu air, terdapat kolom-kolom yang berbentuk persegi besar dengan struktur horizontal yang kokoh.
Kolom-kolom ini berfungsi sebagai landasan plat-plat baja yang bertujuan untuk menahan aliran air sungai, serta berlorong untuk memudahkan akses bangunan pintu air.
Atap bangunan pintu air berdenah asimetris dengan gaya arsitektur zaman Kekaisaran Kedua, dengan 3 menara persegi dan atap yang memiliki dua kemiringan di setiap sisi.
Terdapat juga dua bangunan pengukur ketinggian air yang berada di sebelah utara dan selatan pintu air.
Akan tetap, sebelah selatan masih terendam air sementara yang utara digunakan sebagai lahan pertanian.
Sayangnya, dam ini sudah tidak dioperasikan lagi sejak tahun 1997 karena kondisi rusak dan lapuk termakan usia, serta penurunan debit air.
Sebagai gantinya, pemerintah telah membangun Bendungan Pamarayan Baru yang selesai pada tahun 1997, di mana menggunakan sistem gerak.
Namun, bendungan lama tetap menjadi peninggalan bersejarah yang patut dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan arsitektur peninggalan kolonial.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi