

inNalar.com – Sulawesi Utara memiliki sebuah kepulauan yang dijuluki sebagai ‘Bumi Porodisa’ yang berarti surga. Julukan tersebut tertuju pada Kepulauan Talaud.
Sebutan ‘Porodisa’ memiliki dua versi asal-usul pemaknaan kebahasaan dan istilahnya. Sebagian masyarakat Kepulauan Talaud mengaitkan kata ‘Porodisa’ dengan kata bahasa Inggris ‘Paradise’ yang artinya surga.
Sementara versi lainnya adalah kata ‘Porodisa’ ditarik dari sejarah kisah melegenda dimana orang Portugis terkesima dengan pesona bentang alam Kepulauan Talaud, hingga keluarlah tuturan bahasa Spanyol itu yang juga memiliki arti surga di dalam bahasanya.
Apapun penyebutan yang ditujukan kepada kepulauan surgawi di Sulawesi Utara ini inti dari pemaknaannya sama, yaitu keindahan alam dan potensi yag melimpah ruah yang dimiliki oleh Kepulauan Talaud.
Selain disebut sebagai ‘Bumi Porodisa’, Kepulauan Talaud kemudian dikenal dengan ‘Taloda’.
Dilansir dari laman resmi kkp.go.id, Taloda merupakan gabungan dari dua kata, yakni ‘Talo’ dan ‘Oda’
Dijelaskan bahwa ‘Talo’ diambil dari tokoh asli Talaud, sedangkan ‘Oda’ adalah istrinya yang datang dari Pulau Mindanau, Filipina.
Dari kedua tokoh tersebut, lahirlah keturunan Taloda atau Talaud yang menjadi asal-usul lahirnya kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Terlepas dari bagaimana pemaknaan julukannya, terdapat fakta mencengangkan dari Kepulauan Talaud ini yang telah diungkap oleh seorang arkeolog bernama Prof Peter Bellwood.
Pada tahun 1974, Prof Bellwood melakukan penelitian di Gua Bukit Duanne Musi dan Salurang Sangihe yang dahulu Kepulauan Sangihe masih bagian dari Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Pada penelitiannya, beliau menemukan sisa-sisa benda berupa salah satunya ialah barang berbahan keramik dan kapak batu yang diperkirakan usianya 6.000 tahun sebelum masehi.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kepulauan Sangihe sendiri memang telah meraih zaman kemakmurannya jauh sebelum terbentuknya Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Namun, kondisi kemakmuran menjadi berubah sejak kolonialis kolonialis Eropa melirik Kepulauan Talaud sebab kekayaan rempahnya yang sangat berlimpah.
Bangsa Portugis kala itu menguasai komoditi rempah andalan Kepulauan Talaud seperti cengkeh dan pala, diikuti oleh Bangsa Spanyol yang juga ikut tertarik kepada surga tersembunyi ini.
Tak hanya bangsa Eropa, Cina pun juga disebut sangat tertarik pada komoditi rempah dari Maluku dan Kepulauan Talaud.
Sejak adanya persaingan dagang rempah di antara negara-negara tersebut, dapat dikatakan bahwa Kepulauan Talaud telah menjadi gerbang perdagangan Asia – Pasifik dengan komoditinya yang cukup dikenal oleh sebagian besar negara di seluruh dunia.
Pada satu sisi, wilayah Kepulauan Talaud yang wilayahnya menjadi rebutan berbagai bangsa Eropa dan negara-negara tetangga Asia cukup meninggalkan catatan sejarah yang menyedihkan bagi masyarakat di ‘Bumi Porodisa’ nya Sulawesi Utara ini.
Namun, di sisi lain, bercermin kepada sejarah tersebut bahwa Kepulauan Talaud memiliki peluang besar untuk kembali berjaya secara utuh menjadi jalur perdagangan Asia – Pasifik.
Menimbang banyaknya potensi surga tersembunyi yang tak hanya berhenti pada keindahan wisata alamnya, tetapi Pempov Sulawesi Utara juga perlu memaksimalkan potensi ekonomi Kepulauan Talaud dari berbagai sektor, seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan.***