Habiskan Dana 2 Triliun, PLT Gas Metana Batubara Pertama di Indonesia Berlokasi di Kalimantan Timur

inNalar.com – Indonesia memiliki potensi sumber daya gas metana batubara (CBM) yang cukup besar, terutama di wilayah Kalimantan Timur.

Potensi ini telah menarik minat perusahaan yang berfokus pada penelitian energi untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik CBM di Indonesia.

Salah satu contoh pembangkit listrik CBM di Indonesia adalah Pembangkit Listrik CBM Sanga-Sanga di Kalimantan Timur.

Baca Juga: Butuh Waktu 8 Jam dari Palembang, Danau Sedalam 174 Meter di Sumatera Selatan Ini Dikelilingi Penginapan Mewah

Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga CBM ini menjadi yang pertama di Indonesia. 

Berlokasi di Kutai Kartanegara, proyek ini dikerjakan oleh VICO Indonesia, perusahaan minyak terbesar di Indonesia yang bekerja sama dengan PT PLN.

PLT CBM ini pun resmi digunakan pada akhir November 2011 setelah VICO menandatangani kesepakatan jual beli gas CBM dengan PT PLN.

Baca Juga: Bukan Manado, Daerah di Sulawesi Utara Ini Jadi Penghasil Utama Ekspor Tuna, Bakal Jadi Pusat Perikanan Dunia?

VICO memasok gas CBM dari Lapangan Mutiara di Kalimantan Timur untuk menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) CBM berukuran 2 megawatt (MW).

Untuk investasinya sendiri, pengembangan CBM kelistrikan oleh dua perusahaan tersebut mencapai 200 juta dolar AS atau mencapai sekitar 2 triliun Rupiah.

Sedangkan, harga jual gas CBM ditetapkan sebesar 7,5 sen dolar AS atau 105 Rupiah per million metric British thermal units (mmbtu).

Baca Juga: Terlalu Vulgar! Inilah Nama-nama Desa Unik di Jawa Timur yang Bikin Otak Travelling, Nomor 4 Mengagetkan

Pembangunan pembangkit listrik tenaga CBM dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pemakaian pembangkit Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mahal.

Untuk menghasilkan 1 kilowatt jam (kWh) listrik menggunakan CBM, diperlukan biaya sebesar Rp1.150.

Biaya tersebut lebih murah daripada pembangkit solar di mana 1 kWh listrik tenaga surya membutuhkan dana sebesar Rp2.600.

Listrik yang dihasilkan dari pembangkit CBM juga cukup untuk memasok hingga 2.500 rumah.

CBM dikembangkan untuk penggunaan listrik yang digunakan oleh para warga di desa-desa sekitar wilayah kerja KKKS.

Sedangkan, Kementerian ESDM menyebut bahwa potensi CBM di Indonesia mencapai 300 hingga 450 TCF.

Dengan potensi CBM yang besar di Indonesia, pembangkit listrik CBM menjanjikan masa depan energi yang lebih baik untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi lainnya.

Meski begitu, sepertinya untuk penggunaan PLT CBM sendiri masih belum bisa dilakukan di luar Kalimantan Timur karena beberapa faktor.***

Rekomendasi