

inNalar.com – Beberapa waktu yang lalu, terdapat jembatan di Jawa Timur yang ambrug.
Ambrugnya jembatan di Jawa Timur tersebut disebabkan karena terjangan banjir, yang disertai material Gunung Semeru.
Meskipun setelah ambrugnya jembatan di Jawa Timur itu, pihak berwenang segera melakukan investigasi dalam mempersiapkan Jembatan Bailey.
Agar lebih memahaminya, Jembatan Bailey merupakan jembatan rangka baja ringan yang berkualitas tinggi.
Dengan adanya jembatan Bailey, maka jalur penghubung ini dapat menambal fungsi Jembatan di Jawa Timur yang ambruk karena diterjang banjir lahar dingin.
Akan tetapi, saat melakukan investigasi, ternyata untuk melakukan pemasangan jembatan Bailey tidaklah memungkinkan.
Dilansir Innalar.com dari pu.go.id, Berdasarkan hasil investigasi di lokasi, ternyata salah satu dari dua pilar dari jembatan tersebut telah hilang diterjang banjir.
Dengan menghilangnya satu pilar pada jembatan, maka membuat pilar eksisting tidaklah aman untuk menopang jembatan bailey,.
Ditambah lagi, dengan hilangnya satu pilar tersebut, mengakibatkan safety factor pada jembatan itu turun kurang dari 25 ton.
Adapun jembatan ambrug yang dimaksud adalah Jembatan Kali Glidik II.
Jembatan Kali Glidik II yang ambrug tersebut berada di Lumajang, Jawa timur.
Sekedar informasi, Jembatan Kali Glidik II di Lumajang dulunya dibangun sejak tahun 1970, sehingga saat ambrug, jalur terhubung tersebut telah berusia 53 tahun.
Diketahui Jembatan Kali Glidik II memiliki panjang 38 meter, dengan lebar 6,80 meter.
Karena jembatan berumur 53 tahun itu telah ambrug dan tidak dapat dibangun jembatan Bailey, maka opsi yang dilakukan adalah membangun jembatan permanen.
Berdasarkan data dari situs resmi pekerjaan umum, proses konstruksi jembatan permanen dengan panjang 45 meter tersebut akan berlangsung selama kurang lebih empat bulan.
Diketahui jika Jembatan Kali Glidik II merupakan akses jalan nasional penghubung bagi Kabupaten Malang-Kabupaten Lumajang.
Sedangkan selama melakukan pembangunan jembatan permanen tersebut, maka arus lalu lintas dan logistik di selatan Jawa Timur akan dilakukan pengalihan arus melalui jalur utara, yaitu melalui Pasuruan dan Probolinggo.***