

inNalar.com – Pencapaian Jawa Timur yang sukses menjadi provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia tidak lepas dari sejarah salah satu daerahnya yang pernah menorehkan prestasi gemilang di masa lampau.
Namun, di balik pesat dan kokohnya industri gula berbasis tebu di Jawa Timur hingga kini, ternyata salah satu daerah yang dijuluki sebagai ‘Kota Gula’ ini telah melalui perjalanan yang penuh perjuangan.
Si ‘Kota Gula’ ini adalah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pada zaman Belanda, daerah ini menjadi primadona unggulan Indonesia di mata dunia dengan segala kemajuan dan kecanggihan dalam memproduksi komoditas tebu.
Asal Mula Pembentukan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Siapa sangka, Kabupaten Pasuruan memiliki sebuah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang didirikan pada tanggal 9 Juli 1887.
Dahulu tentu namanya bukan itu. Namanya diambil dari bahasa Belanda, yaitu Het Proefstation Oost Java atau POJ. Adapun secara bahasa, artinya adalah Pusat riset Jawa Timur.
Baca Juga: Terbesar di Gresik Jawa Timur, Ditemukan Kerajaan Bawah Tanah yang Terpendam Ribuan Tahun Lalu
Para pelaku industri gula berbasis tebu di Kabupaten Pasuruan inilah yang giat membangun lembaga riset tersebut.
Mulanya, Pusat riset gula ini dibangun karena dua situasi yang cukup urgen kala itu. Alasan pertama disebabkan oleh krisis ekonomi yang dialami oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Ada dua faktor krusial yang memperparah kondisi tersebut, yaitu kerugian Pemerintah Hindia Belanda yang cukup besar pasca Perang Dipenogoro.
Ditambah lagi, dengan munculnya gula bit yang menjadi kompetitor besar bagi gula tebu. Alasan yang kedua adalah adanya serangan hama penyakit sereh.
Maksudnya adalah fisik tanaman tebu menjadi kerdil seperti pohon sereh. Itulah mengapa disebut dengan serangan penyakit sereh.
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia di Mata Dunia
Pusat Penelitian di Kabupaten Pasuruan ini ternyata menjadi rujukan industri penghasil tebu dari berbagai negara di seluruh dunia.
Sangat mengagumkan, karena zaman tersebut berada pada masa tahun 1900-an dimana teknologi pengolahan tebu belum secanggih sekarang.
Pada tahun 1921, pusat riset gula tertua di dunia ini berhasil menyelamatkan industri gula di seluruh dunia yang kala itu terserang penyakit sereh.
Yaitu, para ahli peneliti dari pusat riset besar di Jawa Timur ini berhasil menciptakan varietas tebu POJ 2878 atau ‘Wonder Cane POJ 2878.
Sejak penemuan itulah, lembaga riset di Kabupaten Pasuruan disebut telah menyelematkan industri gula berbasis tebu di seluruh dunia.
Setelah adanya penemuan tersebut, hampir seluruh lahan tebu di Jawa beralih ke varietas ini.
Penemuan varietas terbaru berlanjut, yakni POJ 3016, yang jauh lebih canggih daripada penemuan sebelumnya.
Ternyata, varietas tebu yang terbaru itu mampu melipatgandakan kemampuan produksi di setiap lahan produktifnya. Tercatat dalam sejarah bahwa varietas tersebut mampu memproduksi komoditasnya sebesar 18 ton per hektarenya.
Namun, kegemilangan lembaga riset tebu di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur semakin lenyap sejak tidak ada lagi bantuan dana dari pemerintah yang bisa mendukung pengembangan penelitian tebu di Indonesia.
Diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan membangkitkan kembali semangat inovasi dan produktivitas Pusat Penelitian Perkebunan Gula di Indonesia, mengingat perannya di masa lalu yang sangat gemilang.***