Berdiri Tahun 1900! Bioskop Tertua di Indonesia Ini Berdinding Bambu, Hanya Para Bangsawan yang Bisa Nonton?

InNalar.com – Umumnya masyarakat Indonesia orang pasti sudah tidak asing dengan bioskop.

Keberadaan bioskop biasanya dibangun dengan megah, dengan fasilitas-fasilitas yang canggih.

Namun berbeda dengan satu bioskop yang diklaim jadi yang tertua di Indonesia.

Baca Juga: Dipenuhi Lumut, Gunung di Sulawesi Selatan Ini Masih Terjaga hingga 70 Persen Kelestariannya, Letaknya…

Bagaimana tidak berbeda, dinding pada bioskop tertua ini saja menggunakan bambu, bukan tembok yang biasanya ditemukan pada bioskop pada umumnya.

Tidak hanya menggunakan dinding bambu, bahkan atapnya saja masih menggunakan seng.

Ditambah lagi, diterangkan jika layar lebar tertua ini merupakan bioskop pertama, yang telah dibangun sejak tahun 1900.

Baca Juga: Produksi Capai 70 Juta Ton Per Tahun, Perusahaan Tambang Batu Bara di Kaltim Catatkan Rekor Terbesar di Dunia

Uniknya, karena menggunakan dinding bambu serta beratapkan seng, maka bioskop ini bisa dipindah-pindah sesuai keinginan.

Dulunya, bioskop tertua ini pertama kali ditayangkan di Lapangan Gambir.

Sekedar informasi, pada masa kolonial Belanda, bioskop kala itu masih disebut dengan Gambar Idoep.

Baca Juga: Diperebutkan 2 Negara, Kaltara akan Bersaing dengan Malaysia untuk Bangun Jembatan Penghubung ke Pulau Ini

Dilansir Innalar.com dari laman resmi Dinas Kebudayaan Jakarta, bioskop pertama tersebut dahulu diusahakan oleh orang Belanda bernama Talbot.

Adapun film pada bioskop tertua yang ditontonkan pada jaman itu yaitu seperti Fantomas, Tom Mix, Charlie Chaplin, Arsene Lupin, dan banyak lagi.

Meskipun karena menjadi bioskop tertua yang belum dilengkapi dengan mesin modern, maka film tersebut merupakan film bisu.

Walaupun tetap sempat diramaikan pula oleh musik-musik orkes.

Sayangnya, bagi orang-orang yang ingin menonton bioskop pada masa itu, cukuplah terbatas hanya untuk kalangan orang-orang atas.

Karena harga yang ditetapkan untuk menonton bioskop saat itu tergolong mahal, jadi yang biasa menonton adalah pemimpin perusahaan-perusahaan besar Belanda, para tuan toko, para pegawai, serta golongan orang-orang berduit. ***

Rekomendasi