

inNalar.com – Desa Penglipuran, Provinsi Bali, sering disebut sebagai desa konservasi, yaitu desa yang masih menjaga dan mempertahakan tradisi dan budaya yang ada di desa tersebut.
Meskipun zaman semakin lama akan terus berkembang, tapi warga Desa Penglipuran, Provinsi Bali masih tetap menjaga semua tradisi dan budaya yang telah ada sejak zaman dahulu kala.
Bentuk arsitektur yang khas dengan bangunan tradisional serupa yang tersusun rapi dan salin berhadapan, menjadi salah satu tradisi dan budaya yang dilesatrikan di Desa Penglipuran, Provinsi Bali.
Pintu masuk khas Bali atau sering angkul-angkul, menjadi pintu menuju rumah penduduk yang berada disetiap pekarangan yang disusun rapi dan serupa dengan posisi saling berhadapan satu sama lain.
Mengutip dari YouTube Nihongo Mantappu, seorang bernama Wajan Sumiarsa selaku Manager Desa Wisata Penglipuran, Provinsi Bali mengatakan bahwa desa ini masih tetap menjaga tradisi dan budaya.
Tradisi yang ada di Desa Penglipuran, Provinsi Bali salah satunya adalah tempat yang disebut dengan Bale Kulkul.
Baca Juga: Nilainya Rp325 Triliun, Megaproyek Penghubung Jawa-Sumatera Ini Bakal Buat Laut Jadi Daratan?
Bale Kulkul adalah bangunan yang dijadikan sebagai penempatan kulkul atau kentongan dengun fungsi sebagai sarana komunikasi untuk memberi tanda kepada masyarakat di desa.
Bale Kulkul hanya bisa dibunyikan oleh kepala desa untuk memanggil para warga untuk berkumpul dalam keadaan apapun termasuk keadaan darurat. Kebiasaan dari tradisi ini masih dilakukan hingga saat ini.
Di setiap pintu masuk atau angkul-angkul akan terlihat nomor rumah, nama desa, kepala keluarga, dan jumlah orang yang ada di dalam masing rumah.
Pada nama desa ada disebut dengan Pengarep, yang artinya adalah orang yang memilki tanggung di setiap rumah dengan jumlah sebanyak 75 orang yang bertanggung jawab.
Selanjutnya di Desa Penglipuran, Provinsi Bali, terdapat Bale Sakundang, yakni tempat yang biasanya digunakan untuk upacara pernikahan.
Setiap pasangan yang telah menikah, maka dilarang untuk poligami. Di Desa Penglipuran terdapat tempat yang diberi nama “Karang Memadu” merupakan tempat buangan atau tempat diasingkannya bagi meraka yang berani untuk poligami.
Tradisi lainnya yang ada di desa ini adalah setiap setelah selesai memasak, mereka akan meletakkan nasi di luar halaman rumah.
Tradisi tersebut dipersembahkan untuk membuat keharmonisan antara dunia makro dan dunia mikro, demi mewujudkan kehidupan yang damai.
Manager Desa Wisata Penglipuran Bali, Wajan Sumiarsa menjelaskan tradisi unik masyarakat di desa ini bahwa, Desa Penglipuran menjadi bersih bukan karena menjadi objek wisata para wisatawan, tetapi sebelum menjadi desa wisata, masyarakat telah melakukan rutinitas atau budaya yang telah diwarisi, yakni membersihkan daerah desa.*** (Jihan Syarief)